Kalau boleh menggambarkan kejadian ini menggunakan lirik lagu, aku rasa lagu berjudul Interaksi yang dinyanyikan Tulus adalah yang paling cocok untukku.
Manalah kutahu datang hari ini
Hari di mana kumelihat dia
Yang tak aku bidik, yang tak aku cari
Duga benih patah hati lagi
Betul, aku tak pernah menyangka akan datang hari itu. Hari di mana aku, pada akhirnya, berkomunikasi lagi dengannya.
Dia seorang teman, yang sejujurnya dulu kehadirannya tak pernah aku perhatikan. Aku tahu dia ada, aku tahu dia berada di tempat yang sama denganku untuk menuntut ilmu, tapi aku tak pernah memedulikan cerita hidupnya. Kami pernah berkecimpung dalam satu organisasi dan menjadi pengurus inti, tapi bahkan setelah lulus pun aku tidak ingat dengan eksistensinya pada saat itu. Tanpa disadari, sebetulnya sudah enam tahun kami berada di lingkungan yang sama. Namun, dia hidup dalam dunianya sendiri, begitu pula diriku yang sibuk dengan duniaku sendiri.
Hingga suatu hari, ada satu momen yang membuat kami akhirnya berkomunikasi (secara daring). Kesan pertamaku? Ternyata dia cukup komunikatif dan menyenangkan untuk diajak ngobrol secara daring. Kebetulan saat itu kami sedang sama-sama berada di perantauan, di kota yang sama pula. Jadi ada banyak hal, keluhan, suka-duka yang kami ceritakan satu sama lain selama di perantauan tersebut.
Kami sempat putus kontak karena memang tak ada lagi yang perlu kami bahas. Kami melanjutkan hidup dan kesibukan masing-masing. Aku kembali ke kampung halaman dan menjalani pekerjaanku di sini. Aku hanya sesekali melihatnya membuat Instagram Story dan melihat apa yang dia kerjakan setelah kami tidak berkomunikasi lagi.
Selang beberapa waktu, datang lagi satu momen yang membuat kami akhirnya berbincang kembali. Pada saat itu aku akhirnya tahu, ternyata dia sudah kembali ke kampung halaman juga. Jadi pada saat ini, lagi-lagi kami tinggal di kota yang sama.
Tidak pernah terbayangkan di kepalaku bahwa skenario ini akan terjadi. Singkat cerita, kami akhirnya menjadi dekat. Lebih dekat dari yang kalian bisa bayangkan. Sudah lebih dari dua bulan kami berkomunikasi setiap hari. Kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulina, di mana cinta tumbuh karena terbiasa. Dan tanpa aba-aba dari semesta, itulah yang terjadi padaku.
Aku selalu merasakan kehadirannya, bahkan di waktu-waktu tersibuknya sekalipun. Saat aku membutuhkan tempat untuk menumpahkan keluh kesah, dia akan hadir untuk mendengarkan. Saat aku dengan manja memintanya menemaniku, dia akan dengan senang hati melayani. Bahkan dia selalu hadir, sekalipun dia sebetulnya membutuhkan waktu untuk sendiri.
Ada satu kebiasaannya yang membuatku merasa bahwa keberadaanku dihargai. Dia selalu memberi kabar, bagaimanapun kondisinya. Saat dia terlalu sibuk untuk membalas, saat dia harus bertemu klien penting, saat dia harus menghadiri meeting, saat dia harus menyetir kendaraan, dia tak pernah luput untuk memberiku kabar sebelumnya. Seolah-olah dia tak mau membiarkanku menunggu dalam ketidakpastian.
Bagiku, dia dapat dikategorikan sebagai pria yang cukup peka. Meskipun terlihat kecil dan sederhana, sebetulnya aku memperhatikan gerak-geriknya. Seperti saat aku kesulitan keluar dari bangku di sebuah rumah makan, dia dengan sigap membantu menggeserkan meja supaya aku dapat leluasa bergerak. Saat aku kesulitan mengambil barang di rak etalase paling atas, dia mengambilkannya tanpa kuminta. Saat aku merasa motorku diparkir terlalu mepet dengan motor di sebelah, dia membantu menggeserkan motor itu tanpa banyak bicara. Saat aku terlalu panik mencari barang yang tak segera kutemukan di dalam tas, dia menunggu dengan sabar dan tanpa keluhan. Dia bahkan menemaniku pulang dan memastikan aku kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Bukan hanya sikapnya padaku, menurutku dia juga memiliki kebiasaan yang cukup baik. Dia tidak merokok, dia selalu mengusahakan untuk sholat di masjid, dia bisa memasak, dia juga kadang membantu membersihkan rumah. Bahkan beberapa pemikiran dan prinsip hidupnya pun mirip denganku.
Itu hanya sebagian kecil. Masih ada banyak hal-hal baik lainnya yang dia lakukan. Terus terang saja, itu semua membuat benih-benih perasaan tumbuh dalam hati.
Tapi..barangkali hanya aku yang terlalu percaya diri mengartikan bahwa sikap baiknya adalah lampu hijau.
Sehari setelah pertemuan pertama kami, dia berkata padaku bahwa dia ingin mundur dan tidak melanjutkan hubungan.
Pada saat itu, aku hanya menerima permintaannya dengan tenang. Toh, kami baru betul-betul dekat kurang lebih dua bulan. Seharusnya tak jadi masalah besar. Ibarat teori five stages of grief, ini adalah fase denial, di mana tubuhku belum sepenuhnya mampu merespons kehilangan.
Lalu otakku bekerja keras, seolah-olah sedang membisikkan berjuta-juta pertanyaan padaku. "Kenapa ya kemarin aku melakukan ini?", "Harusnya aku nggak mengucapkan itu!", "Kenapa dia melakukan hal-hal manis kalau pada akhirnya dia tidak menyukaiku?", dan berbagai pertanyaan untuk membayangkan skenario lain yang dapat terjadi jika aku melakukan hal yang berbeda. Di sinilah muncul fase bargaining, di mana diriku berharap bisa mengubah keadaan.
Beberapa jam setelahnya, hatiku terasa seperti diikat dengan tangkai-tangkai berduri. Sesak dan perih. Rasanya aku hanya ingin duduk sendirian dan menangis sekencang-kencangnya. Dan di sinilah aku, di fase depression. Akhirnya aku menyadari betul bahwa hubungan kami memang kandas. Rasanya sungguh menyakitkan. Seolah-olah diriku telah dibawa terbang tinggi ke langit, lalu dihempaskan sekeras-kerasnya ke bumi. Terus terang saja, aku tidak menyangka hubungan yang super singkat itu bisa membuatku merasakan patah hati sedemikian sakit.
Keesokan harinya, tiba-tiba perasaan sedih itu menghilang dan digantikan oleh perasaan marah. Marah karena aku merasa dia terlalu memberikan perlakuan khusus, seakan-akan dia benar-benar ingin serius denganku. Pada saat itu aku bertanya pada diriku sendiri, apa gunanya dia berbuat baik kalau pada akhirnya aku dibuang begitu saja? Sampailah aku pada fase anger.
Untungnya, aku tidak melalui fase anger terlalu lama. Beberapa jam setelahnya, aku berpikir mungkin memang inilah jalan yang terbaik. Toh, aku dapat pengalaman berharga selama mengenalnya. Toh, dia selalu hadir saat aku terlalu pusing mengerjakan urusan kantor. Toh, dia membantuku mencarikan solusi saat aku kebingungan. Toh, dia juga memberikan perlakuan baik padaku. Intinya, ada banyak sekali hal baik yang dapat aku ambil setelah mengenalnya. Berakhirlah aku di fase acceptance.
Mungkin tulisan ini akan berbeda jika aku menulisnya saat aku masih berada pada fase bargaining, atau depression, atau bahkan anger. Mungkin dia akan terlihat buruk di mata kalian hahaha. Untungnya, aku menuliskan ini saat aku sudah menerima semuanya. Jadi kalian dapat melihat hal-hal baik pada dirinya yang membuat perasaanku tumbuh subur.
Terlepas dari kandasnya hubungan singkat ini, aku bersyukur mengenalnya. Dia termasuk pria yang cukup baik. Aku tidak bilang kalau dia pria yang seutuhnya sempurna, karena memangnya makhluk mana yang sempurna? Beberapa kali aku juga kesal dibuatnya karena perilaku/perkataannya yang menyebalkan. Tapi aku tahu, dia selalu berusaha berbuat dan berperilaku baik.
Aku tidak tahu apakah tulisan ini akan sampai padanya. Tapi jika dia membaca ini, aku hanya ingin bilang padanya:
Kadang kamu menyebalkan, tapi itu semua masih bisa aku maklumi. Terima kasih sudah membersamaiku dalam dua bulan ini. Terima kasih sudah menunjukkan padaku bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukanku. Semoga hal-hal baik selalu datang padamu, semoga semua urusanmu dipermudah, dan semoga kamu segera menemukan perempuan terbaik untuk menjadi pendampingmu. Dan sekali lagi, terima kasih sudah menjadi tempat singgah yang teduh dan menenangkan.
With love,
Umma.

