lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Kalau boleh menggambarkan kejadian ini menggunakan lirik lagu, aku rasa lagu berjudul Interaksi yang dinyanyikan Tulus adalah yang paling cocok untukku.


Manalah kutahu datang hari ini

Hari di mana kumelihat dia

Yang tak aku bidik, yang tak aku cari

Duga benih patah hati lagi


Betul, aku tak pernah menyangka akan datang hari itu. Hari di mana aku, pada akhirnya, berkomunikasi lagi dengannya.

Dia seorang teman, yang sejujurnya dulu kehadirannya tak pernah aku perhatikan. Aku tahu dia ada, aku tahu dia berada di tempat yang sama denganku untuk menuntut ilmu, tapi aku tak pernah memedulikan cerita hidupnya. Kami pernah berkecimpung dalam satu organisasi dan menjadi pengurus inti, tapi bahkan setelah lulus pun aku tidak ingat dengan eksistensinya pada saat itu. Tanpa disadari, sebetulnya sudah enam tahun kami berada di lingkungan yang sama. Namun, dia hidup dalam dunianya sendiri, begitu pula diriku yang sibuk dengan duniaku sendiri.

Hingga suatu hari, ada satu momen yang membuat kami akhirnya berkomunikasi (secara daring). Kesan pertamaku? Ternyata dia cukup komunikatif dan menyenangkan untuk diajak ngobrol secara daring. Kebetulan saat itu kami sedang sama-sama berada di perantauan, di kota yang sama pula. Jadi ada banyak hal, keluhan, suka-duka yang kami ceritakan satu sama lain selama di perantauan tersebut.

Kami sempat putus kontak karena memang tak ada lagi yang perlu kami bahas. Kami melanjutkan hidup dan kesibukan masing-masing. Aku kembali ke kampung halaman dan menjalani pekerjaanku di sini. Aku hanya sesekali melihatnya membuat Instagram Story dan melihat apa yang dia kerjakan setelah kami tidak berkomunikasi lagi.

Selang beberapa waktu, datang lagi satu momen yang membuat kami akhirnya berbincang kembali. Pada saat itu aku akhirnya tahu, ternyata dia sudah kembali ke kampung halaman juga. Jadi pada saat ini, lagi-lagi kami tinggal di kota yang sama.

Tidak pernah terbayangkan di kepalaku bahwa skenario ini akan terjadi. Singkat cerita, kami akhirnya menjadi dekat. Lebih dekat dari yang kalian bisa bayangkan. Sudah lebih dari dua bulan kami berkomunikasi setiap hari. Kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulina, di mana cinta tumbuh karena terbiasa. Dan tanpa aba-aba dari semesta, itulah yang terjadi padaku.

Aku selalu merasakan kehadirannya, bahkan di waktu-waktu tersibuknya sekalipun. Saat aku membutuhkan tempat untuk menumpahkan keluh kesah, dia akan hadir untuk mendengarkan. Saat aku dengan manja memintanya menemaniku, dia akan dengan senang hati melayani. Bahkan dia selalu hadir, sekalipun dia sebetulnya membutuhkan waktu untuk sendiri.

Ada satu kebiasaannya yang membuatku merasa bahwa keberadaanku dihargai. Dia selalu memberi kabar, bagaimanapun kondisinya. Saat dia terlalu sibuk untuk membalas, saat dia harus bertemu klien penting, saat dia harus menghadiri meeting, saat dia harus menyetir kendaraan, dia tak pernah luput untuk memberiku kabar sebelumnya. Seolah-olah dia tak mau membiarkanku menunggu dalam ketidakpastian.  

Bagiku, dia dapat dikategorikan sebagai pria yang cukup peka. Meskipun terlihat kecil dan sederhana, sebetulnya aku memperhatikan gerak-geriknya. Seperti saat aku kesulitan keluar dari bangku di sebuah rumah makan, dia dengan sigap membantu menggeserkan meja supaya aku dapat leluasa bergerak. Saat aku kesulitan mengambil barang di rak etalase paling atas, dia mengambilkannya tanpa kuminta. Saat aku merasa motorku diparkir terlalu mepet dengan motor di sebelah, dia membantu menggeserkan motor itu tanpa banyak bicara. Saat aku terlalu panik mencari barang yang tak segera kutemukan di dalam tas, dia menunggu dengan sabar dan tanpa keluhan. Dia bahkan menemaniku pulang dan memastikan aku kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Bukan hanya sikapnya padaku, menurutku dia juga memiliki kebiasaan yang cukup baik. Dia tidak merokok, dia selalu mengusahakan untuk sholat di masjid, dia bisa memasak, dia juga kadang membantu membersihkan rumah. Bahkan beberapa pemikiran dan prinsip hidupnya pun mirip denganku.

Itu hanya sebagian kecil. Masih ada banyak hal-hal baik lainnya yang dia lakukan. Terus terang saja, itu semua membuat benih-benih perasaan tumbuh dalam hati.

Tapi..barangkali hanya aku yang terlalu percaya diri mengartikan bahwa sikap baiknya adalah lampu hijau.

Sehari setelah pertemuan pertama kami, dia berkata padaku bahwa dia ingin mundur dan tidak melanjutkan hubungan.

Pada saat itu, aku hanya menerima permintaannya dengan tenang. Toh, kami baru betul-betul dekat kurang lebih dua bulan. Seharusnya tak jadi masalah besar. Ibarat teori five stages of grief, ini adalah fase denial, di mana tubuhku belum sepenuhnya mampu merespons kehilangan.

Lalu otakku bekerja keras, seolah-olah sedang membisikkan berjuta-juta pertanyaan padaku. "Kenapa ya kemarin aku melakukan ini?", "Harusnya aku nggak mengucapkan itu!", "Kenapa dia melakukan hal-hal manis kalau pada akhirnya dia tidak menyukaiku?", dan berbagai pertanyaan untuk membayangkan skenario lain yang dapat terjadi jika aku melakukan hal yang berbeda. Di sinilah muncul fase bargaining, di mana diriku berharap bisa mengubah keadaan.

Beberapa jam setelahnya, hatiku terasa seperti diikat dengan tangkai-tangkai berduri. Sesak dan perih. Rasanya aku hanya ingin duduk sendirian dan menangis sekencang-kencangnya. Dan di sinilah aku, di fase depression. Akhirnya aku menyadari betul bahwa hubungan kami memang kandas. Rasanya sungguh menyakitkan. Seolah-olah diriku telah dibawa terbang tinggi ke langit, lalu dihempaskan sekeras-kerasnya ke bumi. Terus terang saja, aku tidak menyangka hubungan yang super singkat itu bisa membuatku merasakan patah hati sedemikian sakit.

Keesokan harinya, tiba-tiba perasaan sedih itu menghilang dan digantikan oleh perasaan marah. Marah karena aku merasa dia terlalu memberikan perlakuan khusus, seakan-akan dia benar-benar ingin serius denganku. Pada saat itu aku bertanya pada diriku sendiri, apa gunanya dia berbuat baik kalau pada akhirnya aku dibuang begitu saja? Sampailah aku pada fase anger.

Untungnya, aku tidak melalui fase anger terlalu lama. Beberapa jam setelahnya, aku berpikir mungkin memang inilah jalan yang terbaik. Toh, aku dapat pengalaman berharga selama mengenalnya. Toh, dia selalu hadir saat aku terlalu pusing mengerjakan urusan kantor. Toh, dia membantuku mencarikan solusi saat aku kebingungan. Toh, dia juga memberikan perlakuan baik padaku. Intinya, ada banyak sekali hal baik yang dapat aku ambil setelah mengenalnya. Berakhirlah aku di fase acceptance.

Mungkin tulisan ini akan berbeda jika aku menulisnya saat aku masih berada pada fase bargaining, atau depression, atau bahkan anger. Mungkin dia akan terlihat buruk di mata kalian hahaha. Untungnya, aku menuliskan ini saat aku sudah menerima semuanya. Jadi kalian dapat melihat hal-hal baik pada dirinya yang membuat perasaanku tumbuh subur.

Terlepas dari kandasnya hubungan singkat ini, aku bersyukur mengenalnya. Dia termasuk pria yang cukup baik. Aku tidak bilang kalau dia pria yang seutuhnya sempurna, karena memangnya makhluk mana yang sempurna? Beberapa kali aku juga kesal dibuatnya karena perilaku/perkataannya yang menyebalkan. Tapi aku tahu, dia selalu berusaha berbuat dan berperilaku baik.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini akan sampai padanya. Tapi jika dia membaca ini, aku hanya ingin bilang padanya:

Kadang kamu menyebalkan, tapi itu semua masih bisa aku maklumi. Terima kasih sudah membersamaiku dalam dua bulan ini. Terima kasih sudah menunjukkan padaku bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukanku. Semoga hal-hal baik selalu datang padamu, semoga semua urusanmu dipermudah, dan semoga kamu segera menemukan perempuan terbaik untuk menjadi pendampingmu. Dan sekali lagi, terima kasih sudah menjadi tempat singgah yang teduh dan menenangkan.


With love,

Umma.

 

source

Judul: Before the Coffee Gets Cold

Penulis: Toshikazu Kawaguchi

Bahasa: English

Nilai: ★★★★✰


Sekilas tentang 'Before the Coffee Gets Cold'

"If you could go back, who would you want to meet?"

Siapa yang punya keinginan kembali ke masa lampau?

Mungkin beberapa orang memiliki keinginan tersebut. Entah karena ingin mengulang memori masa lalu, ingin mengubah kejadian buruk di masa lalu, ingin menemui orang di masa lalu, atau alasan-alasan lainnya.

Di kafe kecil yang terletak di sebuah basement, keinginan kalian untuk kembali ke masa lampau dapat dikabulkan. Kafe tersebut bernama Funicula Funicula.

Kafe kecil itu tidak berjendala, wajar saja karena kafe ini terletak di basement. Di dalamnya hanya terdapat tiga kursi pada meja counter, dan tiga meja makan yang berkapasitas dua orang. Duduklah kalian di kursi yang ditempati seorang gadis bergaun putih, maka keinginan kalian untuk kembali ke masa lalu dapat dikabulkan.

Namun dengan adanya segudang peraturan dan ketidakmampuan untuk mengubah kejadian apapun di masa kini, apakah kalian akan tetap mencoba untuk kembali ke masa lalu?


Personal Review 'Before the Coffee Gets Cold'

Novel ini menyajikan empat bagian cerita, yaitu cerita tentang sepasang kekasih, suami-istri, adik-kakak, serta ibu dan anak. Semua bagian memiliki inti cerita dan alur yang berbeda, meskipun cerita yang disampaikan tetap seputar pengalaman time travel masing-masing tokoh.

Saya pribadi sangat menyukai ceritanya yang hangat dan pesan moral yang menyentuh hati. Walaupun setiap bagian memiliki cerita yang berbeda, pesan moral untuk keseluruhan bagian memiliki kemiripan, yaitu tentang bagaimana kita bisa menghargai waktu dan momen masa kini.

Pada dasarnya, siapapun yang kembali ke masa lalu tidak dapat mengubah kejadian apapun di masa kini. Oleh sebab itu, beberapa orang beranggapan bahwa kembali ke masa lalu tidak ada gunanya. Kendati demikian, orang-orang yang sudah mencoba kembali ke masa lalu justru mensyukuri pilihannya, karena mereka bisa menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi apapun yang akan terjadi ke depannya.

"No matter what difficulties people face, they will always the strength to overcome them. It just takes heart. And if the chair can change someone's heart, it clearly has its purpose."

Terkait penggunaan bahasa, menurut saya Bahasa Inggris yang digunakan masih mudah dipahami. Saya merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang baru memulai membaca novel berbahasa Inggris. Selain itu ceritanya juga cukup ringan, sehingga pembaca tidak perlu berpikir terlalu keras untuk memahami alurnya.


Beberapa hari lalu aku dapet Direct Message di akun Instagramku yang khusus buat nulis (ummaistyping), yang nge-DM itu temenku SMA. Dia tiba-tiba tanya, "Um, kamu suka nulis juga?" Gara-gara satu kalimat itu aku jadi inget kalau aku punya blog hahaha. Sudah setahun lebih blog ini menganggur😅 Jadi karena sudah satu tahun lebih dikit aku tidak menceritakan apapun, mari kuceritakan life-updatekuu..

Kalau kalian membaca postinganku sebelumnya, mungkin kalian tau bahwa tahun lalu aku sudah menyelesaikan magangku dan kembali menjadi pengangguran. Tapiiii ada kabar baik! Setelah beberapa bulan nganggur, akhirnya aku diangkat jadi pegawai di tempat magangku dulu. And another good newsssss karena aku ditempatkan di fungsi yang sama dengan saat magang kemarin, huraayyy! Aku tinggal melanjutkan pekerjaanku pas magang deh. Jadi aku gak perlu terlalu effort buat adaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan. Tinggal belajar dikit-dikit supaya lebih advance aja, karena tanggung jawab pas magang sama pas jadi pegawai tentu saja berbeda hohoho.

Karena aku sudah 1 tahun magang di sana, jadi sebetulnya gak banyak perubahan ya. Seniornya ya itu itu aja, kocaknya juga sama aja. Paling ada beberapa pegawai baru aja yang masuk di tahun 2024 ini. Tapi ternyata pegawai barunya juga sama aja kocaknya wkwk. Akan kuanggap itu sebagai kelebihan dari fungsiku. Budaya makan-makan gratisnya juga masih selalu ada, apalagi kalau ada pegawai ulang tahun atau ada Jumat berkah. Gak heran berat badan bakalan naik kalau kerja di sini. Bingung ini termasuk hal yang harusnya membuatku bahagia atau sedih ya HAHAHA.

Lingkungan mungkin memang gak banyak berubah, tapi tanggung jawab agak sedikit berubah tentu saja. Sekarang aku udah dikasih tanggung jawab yang lebih besar dibanding waktu pas magang. Di satu sisi rasanya deg-degan banget, tapi di lain sisi juga merasa tertantang. Sekarang aku jadi harus berani komunikasi sama orang baru, diskusi sama banyak orang lintas fungsi, menyampaikan hasil review kerjaan orang lain, dan banyak hal baru yang mungkin dulu Umma waktu jaman kuliah gak akan membayangkan akan menjadi Umma di masa kini in a poisitive way yahh.

Sebenernya masih banyak banget hal positif yang sangat pantas aku syukuri ketika aku bekerja di sini. Tapi sepertinya gak perlu semuanya dijabarkan nanti kalian bosen bacanya hahaha. Intinyaa, Alhamdulillah aku berbahagia bekerja di sini, semuanya berkat rejeki dari Allah SWT 💙


Gak kerasa!! Beberapa hari lagi, tepat 1 tahun aku melaksanakan internship di Jakarta. Itu berarti aku harus kembali ke Jogja karena periode internship-nya sudah berakhir. Jujur rasanya campur aduk banget, perasaan yang hampir sama saat aku pertama kali merantau ke Jakarta. Dulu saat aku tau aku lolos program internship ini, ada perasaan seneng, tapi aku juga merasa takut, dan di sisi lain aku juga merasa tertantang, semuanya campur aduk. Dan sekarang saat aku harus kembali lagi ke Jogja, perasaan-perasaan yang sama itu menyerbuku lagi.. Padahal kalau dipikir, Jogja tu comfort zone-ku banget karena rumahku dan keluargaku ada di sana. Tapi karena udah setahun merantau, rasanya jadi aneh juga ya kalau menetap lagi di Jogja hahaha.

Aku gak tau sih kenapa perasaan ini datang menyerbu diriku, mungkin efek lagi PMS juga hihi jadi agak emosional. Tapi beneran loh rasanya tu aneh gitu. Biasanya aku balik ke Jogja hanya untuk mampir sebentar barang sehari dua hari di sela-sela waktu libur kantor. Tapi sekarang beneran pulang, bukan untuk sekedar mampir aja. It's a weird feeling!

Terlepas dari perasaan campur aduk yang sedang kualami sekarang, ada banyaaak banget hal yang memorable selama aku tinggal di Jakarta. Aku datang ke Jakarta bulan Maret 2022, dulu belum banyak temen kuliah yang udah kerja di Jakarta, cuma segelintir aja. Tapi makin ke sini makin banyak aja temen kuliahku yang kerja di daerah Jabodetabek, udah kayak bedol desa hahaha. Dan itulah kenapa aku jadi merasa gak terlalu kesepian karena setiap weekend bisa ngajak temen-temen buat ketemuan untuk sekedar olahraga bareng atau explore tempat main/tempat makan baru di Jakarta.

Selama di Jakarta, aku juga banyak mencoba transportasi umum (MRT, KRL, Trans Jakarta, JakLingko) karena aku memang gak bawa kendaraan hahaha. Tapi ini cukup memorable juga loh buat aku. Dulu saat masih tinggal di Jogja, aku gak ada bayangan sama sekali bakalan berani naik transportasi umum sendirian di Jakarta. Man, ini Jakarta loh, ibu kota negara yang penuh hiruk pikuk, sikut sana sikut sini, gak jelas juga arah mata anginnya gimana (yaa karena kalau di Jogja, kami selalu menunjuk arah pakai mata angin Utara, Timur, Selatan, Barat. Beda dengan di Jakarta yang cuma pakai arah kanan dan kiri), ditambah lagi jalanannya ruwet banget banyak fly over dan under pass yang bikin puyeng kalau baca maps. Gak heran kalau diriku di masa lalu akan berpikir demikian, rasanya berjalan sendirian di Jakarta kayak gak aman aja gitu haha. But here I am, ternyata aku berani kesana kemari sendirian bermodalkan kepercayaan diri dan doa 😂 Bahkan aku pernah pergi dari Jakarta Selatan ke Tangerang Selatan (ICE BSD) all by myself dengan mengendarai KRL dan shuttle BSD. What a great accomplishment, dude! Kalau aku kembali ke masa lalu, pasti diriku di masa lalu gak akan pernah expect diriku akan tumbuh se-berani ini. Hiks terharuu.

Aku juga cukup terkaget-kaget saat datang ke Jakarta, ternyata biaya hidupnya mahal HAHAHA. Bahkan ini aku bukan tipe orang yang menghambur-hamburkan uang ya, itungannya cukup irit sih. Di Jakarta tuh biaya kosnya mahal, makan juga mahal. Dulu kalau di Jogja (pas jaman aku kuliah), makan 15ribu - 20ribu itu udah hedon banget rasanya wkwkwk karena emang harga makanan lain rata-rata di bawah itu. Jadi kalo keluar uang segitu rasanya udah mahal. Contoh makanan dengan harga segitu tapi masuk ke dalam list makanan favoritku adalah D*rty Chick yang sudah berganti nama brand. Nah dulu pas aku tau aku keterima internship, aku mikir "Oh mungkin harga makan di Jakarta ya sekitaran 15-17 ribu itu ya, kan di sini udah hedon. Paling mahal 20ribu deh mungkin." Eeeh gak taunyaa harga makanan di Jakarta (lebih tepatnya makanan kantin di daerah kantorku karena hari-hari saya habiskan untuk bekerja) >20ribuan WKWKWK di luar ekspektasi. Tapiiii gak semuanya begini ya. Tetep ada kok makanan warteg yang <20ribuan. Tergantung gimana milihnya aja wkwk. Kalau aku lagi di daerah kantor, mau gak mau ya makan makanan dengan harga >20ribuan karena rata-rata makanan harganya segitu. Tapi kalau di daerah kos, harganya sedikit lebih merakyat jadi aku bisa keluar uang <20ribu untuk sekali makan. Ya karena adanya ketimpangan harga di Jakarta dan Jogja ini, serta adanya kewajiban untuk membayar biaya sewa kos, aku jadi belajar mengatur uang. Beneran dehh! Kalau gak ada pengaturan uang ini, kayaknya aku akan terus merasa kekurangan hahaha. Ada untungnya juga aku jadi belajar manage keuanganku sendiri.

Terlepas dari urusan kehidupanku di Jakarta, aku juga seneng karena belajar hal baru di perusahaan ini. Background pendidikanku Teknik Industri, selama kuliah banyak berkaitan dengan manufaktur. Jadi gak ada bayangan sama sekali bisa dapet kesempatan buat bekerja sambil belajar di perusahaan oil&gas. Mungkin memang agak gak nyambung ya manufaktur dan oil&gas, tapi ternyata di fungsi yang aku masuki ini, aku tetep mengaplikasikan beberapa hal yang aku pelajari di kampus. Jadi seneng bisa lihat pengaplikasian ilmu Teknik Industri di perusahaan oil&gas. Ditambah lagi, aku sering dapet makan gratis di kantor HAHAHA biasanya karena ada pegawai yang ulang tahun, atau mungkin pas lagi momen Jumat Berkah, atau bahkan gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ada pegawai bawa makanan ke kantor. Bener-bener menyenangkan untuk anak kos ya hahaha. Selain itu aku juga punya temen internship lain dari background pendidikan yang berbeda. Jadi aku bisa sharing ilmu juga sama temen-temen yang lain karena kadang aku gak terlalu paham teknis-teknis pengeboran migas hihi.

Yahh jadi diriku tinggal menghitung hari nih karena sebentar lagi akan pulang ke Jogja. Agak sedih karena harus meninggalkan keseruan di Jakarta, tapi di sisi lain juga seneng karena bisa back to my lovely home (untuk sementara, karena di masa depan yang entah kapan waktunya aku akan bekerja lagi ya pastinya). Ya sudah, mari menikmati masa-masa perpisahan (sekaligus pertemuan kembali) ini dengan hati yang ikhlas💛

Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Maret 2026 (1)
      • Tempat Singgah
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  Juli 2018 (3)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes