lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Akhir-akhir ini ada saja kejutan dalam hidupku, baik yang menyenangkan maupun melelahkan. Namun, sejujurnya aku merasa beruntung dan bersyukur atas semua hal yang Allah hadirkan itu.

Selama 2026 ini, aku bertemu dengan beberapa orang yang silih berganti mengisi kehidupanku. Ada orang yang tipenya tenang dan sangat menjaga lisan. Ada juga orang yang tipenya 'eksplosif', ekspresif, dan semua hal dia ceritakan padaku. Bahkan ada juga orang yang tipenya datang hanya di saat-saat tertentu dan menghilang ketika dia sudah tidak memerlukanku.

Dari sekian banyak jenis manusia yang datang dan pergi, aku menyimpulkan satu hal. Mereka seolah terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang selalu fast response dan mereka yang cenderung slow response saat membalas pesan.

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku termasuk ke dalam grup orang yang fast response. Alasanku sederhana. Ketika aku tahu seseorang sedang menunggu jawabanku, selalu ada dorongan untuk segera membalasnya. Sederhana saja, aku hanya ingin menghargai mereka. Walaupun sebetulnya mereka juga belum tentu membutuhkan jawaban cepat dariku.

Tapi...beberapa kenalan memberiku saran supaya aku menjadi orang yang tidak terlalu 'tersedia' kepada siapa pun. Alasannya bermacam-macam. Namun, aku bisa tarik garis kesimpulan bahwa, menurut mereka, orang lain akan menghargai kita ketika kita tidak terlalu 'tersedia'.

Padahal aku menjadi orang yang fast response karena aku menghargai orang lain. Tapi kenapa perilakuku itu dianggap terlalu 'tersedia' dan bisa membuat orang lain tidak menghargaiku?

Bukankah seharusnya manusia itu diciptakan untuk saling menghargai? Bukankah penghargaan itu seharusnya tetap ada, terlepas dari apakah seseorang selalu tersedia atau tidak?

Entahlah.

Sampai detik ini aku masih belum menemukan jawabannya. Aku hanya berharap dunia tidak sampai pada titik di mana seseorang harus berpura-pura sibuk, berpura-pura sulit dijangkau, atau berpura-pura tidak peduli hanya agar dirinya dianggap berharga.

Karena menurutku, bukankah akan jauh lebih indah jika manusia bisa saling menghargai tanpa syarat?


Dulu aku selalu mikir kalau beli barang yang lebih gede, otomatis biaya pengeluarannya lebih murah. Contohnya nih, misal kalian beli sabun 250 ml. Harga per ml biasanya akan lebih murah daripada sabun yang 100 ml, dengan merk yang sama.

Selain itu, ongkos kirim atau ongkos perjalanan ke tokonya otomatis jadi lebih murah juga. Karena dengan membeli sabun 250 ml, kalian gak perlu dua kali datang ke toko atau dua kali membayar ongkos kirim.

Sebagai lulusan Teknik Industri, otakku ini ada aja mikir cara supaya semuanya lebih efisien. Mendapatkan hasil yang optimal dengan resource yang minimal. Dan aku yakin beberapa orang yang bidangnya sama kayak aku, juga akan berpikir demikian.

Sampai akhirnya aku membaca sebuah cuitan di sosial media X. Anggap aja kita lagi bahas pembelian sabun 100 ml dan 250 ml tadi ya. Di cuitan tersebut, ada yang bilang kalau gak semua orang mampu membeli sabun 250 ml saat itu juga. Dalam artian, saat ini mereka hanya punya uang untuk membeli yang 100 ml. Mungkin kalau dihitung-hitung emang jatuhnya lebih mahal. Tapi masalahnya resource-nya gak ada. Uang yang saat itu tersedia untuk beli sabun tuh gak sebanyak itu. Jadi mereka cuma mampu beli yang 100 ml, dan akan membeli lagi nanti kalo sabunnya udah habis dan udah punya uang lagi.

Pas baca cuitan itu, jujur aja mataku langsung terbuka lebar. Berarti selama ini aku cukup beruntung karena aku gak pernah punya constraint kekurangan resource (dalam hal ini adalah uang) untuk beli sabun langsung yang 250 ml. Ternyata masih ada lho orang-orang di luar sana yang mau beli sabun 250 ml aja tuh gak sanggup. Jadi belinya dikit-dikit sesuai ketersediaan uang saat itu.

Kebetulan, setahun yang lalu ibuku divonis punya tumor dan miom di organ tubuhnya. Ibuku tuh penakuuuuut banget kalo udah berurusan sama dokter. Jadi akhirnya ibuku memutuskan untuk berobat ke alternatif gitu. Ini cerita versi singkatnya yah, walaupun sejujurnya ada pergolakan batin juga selama proses memutuskan hal ini.

Berapa biaya alternatifnya? Seminggu itu ibuku harus membayar 225.000 untuk menebus obat herbal. Jadi bisa dibayangkan ya berapa banyak pengeluaran untuk pengobatan alternatif ini. Dan FYI, ibuku udah menjalani pengobatan itu hampir setahun.

Atasanku juga tahu kalau ibuku sakit dan sedang berjuang untuk sembuh. Beberapa kali beliau menanyakan progress pengobatan ibu. Beliau juga tahu ibuku berobat ke alternatif. Dan kemarin beliau nanya-nanya tentang pengobatan itu.

Aku lupa sih kami bahas apa waktu itu, tapi aku sempet bilang ke beliau kalau ibuku harus membayar sekian (nominal yang kusebut di atas tadi) setiap minggu. Sebagai gambaran, atasanku juga punya background pendidikan yang sama denganku hehe. Terus kalian tau gak respon beliau?

"Kenapa gak ditebus aja obatnya langsung banyak, misal sekalian sebulan, biar gak bolak balik? Kan jatuhnya lebih murah, karena ongkos perjalanannya gak dihitung berkali-kali."

Aku cuma tersenyum.

Ternyata hal ini datang juga padaku. Mungkin aku masih mampu beli sabun langsung yang 250 ml. Tapi khusus pengobatan alternatif ini ternyata aku cuma bisa bayar dikit-dikit dulu hehe. It’s not a big a deal sih sebenernya. As long as aku dan keluarga masih bisa membayar pengobatan tersebut, mau bagaimana pun metodenya, itu gak jadi masalah. Insya Allah, Allah mampukan kami sekeluarga. Aamiin.

Kalau boleh menggambarkan kejadian ini menggunakan lirik lagu, aku rasa lagu berjudul Interaksi yang dinyanyikan Tulus adalah yang paling cocok untukku.


Manalah kutahu datang hari ini

Hari di mana kumelihat dia

Yang tak aku bidik, yang tak aku cari

Duga benih patah hati lagi


Betul, aku tak pernah menyangka akan datang hari itu. Hari di mana aku, pada akhirnya, berkomunikasi lagi dengannya.

Dia seorang teman, yang sejujurnya dulu kehadirannya tak pernah aku perhatikan. Aku tahu dia ada, aku tahu dia berada di tempat yang sama denganku untuk menuntut ilmu, tapi aku tak pernah memedulikan cerita hidupnya. Kami pernah berkecimpung dalam satu organisasi dan menjadi pengurus inti, tapi bahkan setelah lulus pun aku tidak ingat dengan eksistensinya pada saat itu. Tanpa disadari, sebetulnya sudah enam tahun kami berada di lingkungan yang sama. Namun, dia hidup dalam dunianya sendiri, begitu pula diriku yang sibuk dengan duniaku sendiri.

Hingga suatu hari, ada satu momen yang membuat kami akhirnya berkomunikasi (secara daring). Kesan pertamaku? Ternyata dia cukup komunikatif dan menyenangkan untuk diajak ngobrol secara daring. Kebetulan saat itu kami sedang sama-sama berada di perantauan, di kota yang sama pula. Jadi ada banyak hal, keluhan, suka-duka yang kami ceritakan satu sama lain selama di perantauan tersebut.

Kami sempat putus kontak karena memang tak ada lagi yang perlu kami bahas. Kami melanjutkan hidup dan kesibukan masing-masing. Aku kembali ke kampung halaman dan menjalani pekerjaanku di sini. Aku hanya sesekali melihatnya membuat Instagram Story dan melihat apa yang dia kerjakan setelah kami tidak berkomunikasi lagi.

Selang beberapa waktu, datang lagi satu momen yang membuat kami akhirnya berbincang kembali. Pada saat itu aku akhirnya tahu, ternyata dia sudah kembali ke kampung halaman juga. Jadi pada saat ini, lagi-lagi kami tinggal di kota yang sama.

Tidak pernah terbayangkan di kepalaku bahwa skenario ini akan terjadi. Singkat cerita, kami akhirnya menjadi dekat. Lebih dekat dari yang kalian bisa bayangkan. Sudah lebih dari dua bulan kami berkomunikasi setiap hari. Kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulina, di mana cinta tumbuh karena terbiasa. Dan tanpa aba-aba dari semesta, itulah yang terjadi padaku.

Aku selalu merasakan kehadirannya, bahkan di waktu-waktu tersibuknya sekalipun. Saat aku membutuhkan tempat untuk menumpahkan keluh kesah, dia akan hadir untuk mendengarkan. Saat aku dengan manja memintanya menemaniku, dia akan dengan senang hati melayani. Bahkan dia selalu hadir, sekalipun dia sebetulnya membutuhkan waktu untuk sendiri.

Ada satu kebiasaannya yang membuatku merasa bahwa keberadaanku dihargai. Dia selalu memberi kabar, bagaimanapun kondisinya. Saat dia terlalu sibuk untuk membalas, saat dia harus bertemu klien penting, saat dia harus menghadiri meeting, saat dia harus menyetir kendaraan, dia tak pernah luput untuk memberiku kabar sebelumnya. Seolah-olah dia tak mau membiarkanku menunggu dalam ketidakpastian.  

Bagiku, dia dapat dikategorikan sebagai pria yang cukup peka. Meskipun terlihat kecil dan sederhana, sebetulnya aku memperhatikan gerak-geriknya. Seperti saat aku kesulitan keluar dari bangku di sebuah rumah makan, dia dengan sigap membantu menggeserkan meja supaya aku dapat leluasa bergerak. Saat aku kesulitan mengambil barang di rak etalase paling atas, dia mengambilkannya tanpa kuminta. Saat aku merasa motorku diparkir terlalu mepet dengan motor di sebelah, dia membantu menggeserkan motor itu tanpa banyak bicara. Saat aku terlalu panik mencari barang yang tak segera kutemukan di dalam tas, dia menunggu dengan sabar dan tanpa keluhan. Dia bahkan menemaniku pulang dan memastikan aku kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Bukan hanya sikapnya padaku, menurutku dia juga memiliki kebiasaan yang cukup baik. Dia tidak merokok, dia selalu mengusahakan untuk sholat di masjid, dia bisa memasak, dia juga kadang membantu membersihkan rumah. Bahkan beberapa pemikiran dan prinsip hidupnya pun mirip denganku.

Itu hanya sebagian kecil. Masih ada banyak hal-hal baik lainnya yang dia lakukan. Terus terang saja, itu semua membuat benih-benih perasaan tumbuh dalam hati.

Tapi..barangkali hanya aku yang terlalu percaya diri mengartikan bahwa sikap baiknya adalah lampu hijau.

Sehari setelah pertemuan pertama kami, dia berkata padaku bahwa dia ingin mundur dan tidak melanjutkan hubungan.

Pada saat itu, aku hanya menerima permintaannya dengan tenang. Toh, kami baru betul-betul dekat kurang lebih dua bulan. Seharusnya tak jadi masalah besar. Ibarat teori five stages of grief, ini adalah fase denial, di mana tubuhku belum sepenuhnya mampu merespons kehilangan.

Lalu otakku bekerja keras, seolah-olah sedang membisikkan berjuta-juta pertanyaan padaku. "Kenapa ya kemarin aku melakukan ini?", "Harusnya aku nggak mengucapkan itu!", "Kenapa dia melakukan hal-hal manis kalau pada akhirnya dia tidak menyukaiku?", dan berbagai pertanyaan untuk membayangkan skenario lain yang dapat terjadi jika aku melakukan hal yang berbeda. Di sinilah muncul fase bargaining, di mana diriku berharap bisa mengubah keadaan.

Beberapa jam setelahnya, hatiku terasa seperti diikat dengan tangkai-tangkai berduri. Sesak dan perih. Rasanya aku hanya ingin duduk sendirian dan menangis sekencang-kencangnya. Dan di sinilah aku, di fase depression. Akhirnya aku menyadari betul bahwa hubungan kami memang kandas. Rasanya sungguh menyakitkan. Seolah-olah diriku telah dibawa terbang tinggi ke langit, lalu dihempaskan sekeras-kerasnya ke bumi. Terus terang saja, aku tidak menyangka hubungan yang super singkat itu bisa membuatku merasakan patah hati sedemikian sakit.

Keesokan harinya, tiba-tiba perasaan sedih itu menghilang dan digantikan oleh perasaan marah. Marah karena aku merasa dia terlalu memberikan perlakuan khusus, seakan-akan dia benar-benar ingin serius denganku. Pada saat itu aku bertanya pada diriku sendiri, apa gunanya dia berbuat baik kalau pada akhirnya aku dibuang begitu saja? Sampailah aku pada fase anger.

Untungnya, aku tidak melalui fase anger terlalu lama. Beberapa jam setelahnya, aku berpikir mungkin memang inilah jalan yang terbaik. Toh, aku dapat pengalaman berharga selama mengenalnya. Toh, dia selalu hadir saat aku terlalu pusing mengerjakan urusan kantor. Toh, dia membantuku mencarikan solusi saat aku kebingungan. Toh, dia juga memberikan perlakuan baik padaku. Intinya, ada banyak sekali hal baik yang dapat aku ambil setelah mengenalnya. Berakhirlah aku di fase acceptance.

Mungkin tulisan ini akan berbeda jika aku menulisnya saat aku masih berada pada fase bargaining, atau depression, atau bahkan anger. Mungkin dia akan terlihat buruk di mata kalian hahaha. Untungnya, aku menuliskan ini saat aku sudah menerima semuanya. Jadi kalian dapat melihat hal-hal baik pada dirinya yang membuat perasaanku tumbuh subur.

Terlepas dari kandasnya hubungan singkat ini, aku bersyukur mengenalnya. Dia termasuk pria yang cukup baik. Aku tidak bilang kalau dia pria yang seutuhnya sempurna, karena memangnya makhluk mana yang sempurna? Beberapa kali aku juga kesal dibuatnya karena perilaku/perkataannya yang menyebalkan. Tapi aku tahu, dia selalu berusaha berbuat dan berperilaku baik.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini akan sampai padanya. Tapi jika dia membaca ini, aku hanya ingin bilang padanya:

Kadang kamu menyebalkan, tapi itu semua masih bisa aku maklumi. Terima kasih sudah membersamaiku dalam dua bulan ini. Terima kasih sudah menunjukkan padaku bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukanku. Semoga hal-hal baik selalu datang padamu, semoga semua urusanmu dipermudah, dan semoga kamu segera menemukan perempuan terbaik untuk menjadi pendampingmu. Dan sekali lagi, terima kasih sudah menjadi tempat singgah yang teduh dan menenangkan.


With love,

Umma.

 

source

Judul: Before the Coffee Gets Cold

Penulis: Toshikazu Kawaguchi

Bahasa: English

Nilai: ★★★★✰


Sekilas tentang 'Before the Coffee Gets Cold'

"If you could go back, who would you want to meet?"

Siapa yang punya keinginan kembali ke masa lampau?

Mungkin beberapa orang memiliki keinginan tersebut. Entah karena ingin mengulang memori masa lalu, ingin mengubah kejadian buruk di masa lalu, ingin menemui orang di masa lalu, atau alasan-alasan lainnya.

Di kafe kecil yang terletak di sebuah basement, keinginan kalian untuk kembali ke masa lampau dapat dikabulkan. Kafe tersebut bernama Funicula Funicula.

Kafe kecil itu tidak berjendala, wajar saja karena kafe ini terletak di basement. Di dalamnya hanya terdapat tiga kursi pada meja counter, dan tiga meja makan yang berkapasitas dua orang. Duduklah kalian di kursi yang ditempati seorang gadis bergaun putih, maka keinginan kalian untuk kembali ke masa lalu dapat dikabulkan.

Namun dengan adanya segudang peraturan dan ketidakmampuan untuk mengubah kejadian apapun di masa kini, apakah kalian akan tetap mencoba untuk kembali ke masa lalu?


Personal Review 'Before the Coffee Gets Cold'

Novel ini menyajikan empat bagian cerita, yaitu cerita tentang sepasang kekasih, suami-istri, adik-kakak, serta ibu dan anak. Semua bagian memiliki inti cerita dan alur yang berbeda, meskipun cerita yang disampaikan tetap seputar pengalaman time travel masing-masing tokoh.

Saya pribadi sangat menyukai ceritanya yang hangat dan pesan moral yang menyentuh hati. Walaupun setiap bagian memiliki cerita yang berbeda, pesan moral untuk keseluruhan bagian memiliki kemiripan, yaitu tentang bagaimana kita bisa menghargai waktu dan momen masa kini.

Pada dasarnya, siapapun yang kembali ke masa lalu tidak dapat mengubah kejadian apapun di masa kini. Oleh sebab itu, beberapa orang beranggapan bahwa kembali ke masa lalu tidak ada gunanya. Kendati demikian, orang-orang yang sudah mencoba kembali ke masa lalu justru mensyukuri pilihannya, karena mereka bisa menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi apapun yang akan terjadi ke depannya.

"No matter what difficulties people face, they will always the strength to overcome them. It just takes heart. And if the chair can change someone's heart, it clearly has its purpose."

Terkait penggunaan bahasa, menurut saya Bahasa Inggris yang digunakan masih mudah dipahami. Saya merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang baru memulai membaca novel berbahasa Inggris. Selain itu ceritanya juga cukup ringan, sehingga pembaca tidak perlu berpikir terlalu keras untuk memahami alurnya.


Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ▼  2026 (3)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Mengapa Kebaikan Perlu Dibatasi?
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  Juli 2018 (3)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes