![]() |
| Pict source click here! |
"Jadi, how's life, Ren?"
Kalimat yang meluncur dari bibir mungilnya sungguh memecah keheningan. Ditambah debar jantungku yang semakin kencang membuat suasana di pantai ini tak lagi seindah biasanya. Sudah sekian lama jantungku tidak bekerja se-ekstra ini. Kalau saja aku bisa melihat bagian dalam organ tubuhku, mungkin sekarang lemak-lemak jahat di sekitar jantungku sudah luruh akibat begitu kencangnya jantungku berdetak bersamaan dengan luruhnya akal sehatku.
Tanpa harus melontarkan pertanyaan basa-basi itu pun aku tahu bahwa dia sebenarnya sudah paham betul dengan kondisiku saat ini. Siapa pula yang tak bisa menerka-nerka kondisi orang yang datang ke pantai dengan baju dan rambut berantakan, lengan baju dilipat asal-asalan, mata bengkak, dan wajah pucat bagaikan anemia? Aku rasa, anak kecil pun mengerti bahwa kondisiku tidak sedang baik-baik saja.
"Not bad, I think."
"Not bad, I think."
"Jangan sering begadang, Ren. Kantung matamu udah hampir menyamai kantung ajaib Doraemon, tuh."
Sial! Dia masih bisa mengajakku bercanda, padahal hatiku sudah menjerit-jerit tak karuan. Aku kembali memusatkan pandanganku ke ombak yang bergulung-gulung di depan sana. Mencoba mencari ketenangan supaya aku mendapatkan kembali akal sehatku yang mungkin sudah hilang tertimbun pasir di pantai ini.
Aku memang rutin mengunjungi pantai ini setiap dua kali dalam seminggu. Memandang matahari terbenam, sembari melepas segala penat yang menjerat diriku. Pertemuanku dengannya saat ini betul-betul di luar dugaan. Bahkan aku tak menyangka akan bersua kembali dengannya. Wajar saja kalau aku benar-benar kaget saat melihat sosoknya berdiri di depanku. Setelah sekian lama kami tak bertemu, senyumnya tak berubah. Masih sama seperti dulu, sama-sama mampu menyeret tubuhku supaya berada dalam pelukannya.
Kalau saja boleh kukatakan, sebenarnya dia merupakan perempuan yang cukup menarik. Berperawakan tinggi dan langsing bak model brand ternama Victoria's Secret. Saat dia berbicara, bukan hanya bibirnya yang mampu berucap, bahkan matanya pun ikut berbicara. Dalam sekali tatap, aku yakin lelaki mana pun akan jatuh tersungkur di hadapannya, memohon untuk menjadi kekasihnya. Bodohnya, aku termasuk salah satu lelaki yang juga jatuh tersungkur di hadapannya.
Rupanya dia berusaha untuk mencairkan suasana di antara kami berdua dengan melontarkan candaan yang sama sekali tak lucu. Maka dengan enggan kuulaskan senyum tipis untuk membalas perkataannya barusan. Lalu kembali sibuk menenangkan hatiku yang dari tadi menjerit-jerit di dalam dada.
"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini. Aku juga nggak menyangka bakalan ketemu kamu. Takdir Tuhan, mungkin?"
Takdir Tuhan? Aku tersenyum samar sembari melempar kerikil ke arah deburan ombak.
"Sudah delapan tahun ini aku tinggal di Jerman, Ren. Maaf aku nggak pernah sekali pun menghubungi kamu. Bahkan kurasa kamu sudah tahu alasannya."
Aku mengangguk lemah sembari tetap mengunci mulut dengan rapat.
"Mungkin berat menjalani hari-hari menyedihkan di sini. Aku pun juga sadar betul kalau aku pergi dengan sangat mendadak. Membiarkanmu berusaha sendirian keluar dari cengkeraman begitu banyak lara."
"Sejauh ini aku baik-baik aja, nggak usah terlalu khawatir. Kamu sendiri gimana di Jerman?"
"Aku juga baik-baik aja."
Aku sangat yakin, dia pergi ke Jerman memang semata-mata untuk menghindariku. Aku pun juga yakin betul, dia tidak baik-baik saja di sana. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja saat dia pergi sembari membawa begitu banyak lara.
"Banyak sekali hal yang kulakukan di Jerman, tapi entah kenapa aku tetap nggak bisa lupa, Ren."
"Lupa? Mengenai apa?"
"Memangnya apa lagi kalau bukan tentang kita."
Sudah sekian tahun lamanya aku terjerembab dalam perasaanku sendiri dan tak dapat bangkit kembali. Apakah begini caranya cinta bekerja? Bibir tersenyum lebar, namun hati tersayat-sayat. Anehnya, aku dengan ikhlas menikmati perasaan itu. Apa betul ini namanya cinta? Atau aku hanyalah seorang bodoh yang bertahun-tahun menikmati lara?
Tak dapat kupungkiri, Fiya, perempuan yang sedang duduk di sampingku, mampu membuat perasaanku membumbung tinggi lalu menghancurleburkannya pada saat bersamaan. Aku sendiri tak tahu, aku memang bodoh atau karismanya sungguh mampu membuatku berpikir dialah perempuan satu-satunya yang mampu singgah di hatiku. Sampai saat ini pun perasaan itu tak berubah. Aku masih mengaguminya, jantungku masih berdegup kencang saat berdua dengannya, sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya.
"Asal kamu tahu, Fi. Perasaanku masih sama, nggak ada yang berubah."
"Begitu pun aku, Ren. Tapi sayangnya, keluargaku dan keluargamu tidak dapat menerima hal ini."
Kepalaku tertunduk. Kupejamkan mata sembari merasakan sekujur tubuhku yang mulai memanas, menahan gejolak emosi yang meluap. Tiba-tiba saja kurasakan telapak tanganku menghangat, rupanya Fiya menggenggamnya. Energi positif yang ia miliki cukup tersalurkan dari sini. Luapan emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun pun kembali mereda.
Aku dan Fiya mengarungi pikiran masing-masing. Mulut terkunci rapat, namun mata sibuk memandang deburan ombak dengan latar senja di belakangnya. Mencoba mencari solusi yang mungkin saja terselubung di setiap buih-buih ombak. Begitu asyiknya aku menyelami pikiranku, tiba-tiba saja Fiya mengucapkan sesuatu.
"Ren, kurasa kamu harus sholat. Barusan aku dengar adzan Maghrib. Makasih buat pertemuan tak terduga ini. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Ini kartu namaku, hubungi aja kapan pun kamu mau. Aku pulang dulu, ada jadwal sembahyang di gereja. See you, Ren!"
Aku memang rutin mengunjungi pantai ini setiap dua kali dalam seminggu. Memandang matahari terbenam, sembari melepas segala penat yang menjerat diriku. Pertemuanku dengannya saat ini betul-betul di luar dugaan. Bahkan aku tak menyangka akan bersua kembali dengannya. Wajar saja kalau aku benar-benar kaget saat melihat sosoknya berdiri di depanku. Setelah sekian lama kami tak bertemu, senyumnya tak berubah. Masih sama seperti dulu, sama-sama mampu menyeret tubuhku supaya berada dalam pelukannya.
Kalau saja boleh kukatakan, sebenarnya dia merupakan perempuan yang cukup menarik. Berperawakan tinggi dan langsing bak model brand ternama Victoria's Secret. Saat dia berbicara, bukan hanya bibirnya yang mampu berucap, bahkan matanya pun ikut berbicara. Dalam sekali tatap, aku yakin lelaki mana pun akan jatuh tersungkur di hadapannya, memohon untuk menjadi kekasihnya. Bodohnya, aku termasuk salah satu lelaki yang juga jatuh tersungkur di hadapannya.
Rupanya dia berusaha untuk mencairkan suasana di antara kami berdua dengan melontarkan candaan yang sama sekali tak lucu. Maka dengan enggan kuulaskan senyum tipis untuk membalas perkataannya barusan. Lalu kembali sibuk menenangkan hatiku yang dari tadi menjerit-jerit di dalam dada.
"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini. Aku juga nggak menyangka bakalan ketemu kamu. Takdir Tuhan, mungkin?"
Takdir Tuhan? Aku tersenyum samar sembari melempar kerikil ke arah deburan ombak.
"Sudah delapan tahun ini aku tinggal di Jerman, Ren. Maaf aku nggak pernah sekali pun menghubungi kamu. Bahkan kurasa kamu sudah tahu alasannya."
Aku mengangguk lemah sembari tetap mengunci mulut dengan rapat.
"Mungkin berat menjalani hari-hari menyedihkan di sini. Aku pun juga sadar betul kalau aku pergi dengan sangat mendadak. Membiarkanmu berusaha sendirian keluar dari cengkeraman begitu banyak lara."
"Sejauh ini aku baik-baik aja, nggak usah terlalu khawatir. Kamu sendiri gimana di Jerman?"
"Aku juga baik-baik aja."
Aku sangat yakin, dia pergi ke Jerman memang semata-mata untuk menghindariku. Aku pun juga yakin betul, dia tidak baik-baik saja di sana. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja saat dia pergi sembari membawa begitu banyak lara.
"Banyak sekali hal yang kulakukan di Jerman, tapi entah kenapa aku tetap nggak bisa lupa, Ren."
"Lupa? Mengenai apa?"
"Memangnya apa lagi kalau bukan tentang kita."
Sudah sekian tahun lamanya aku terjerembab dalam perasaanku sendiri dan tak dapat bangkit kembali. Apakah begini caranya cinta bekerja? Bibir tersenyum lebar, namun hati tersayat-sayat. Anehnya, aku dengan ikhlas menikmati perasaan itu. Apa betul ini namanya cinta? Atau aku hanyalah seorang bodoh yang bertahun-tahun menikmati lara?
Tak dapat kupungkiri, Fiya, perempuan yang sedang duduk di sampingku, mampu membuat perasaanku membumbung tinggi lalu menghancurleburkannya pada saat bersamaan. Aku sendiri tak tahu, aku memang bodoh atau karismanya sungguh mampu membuatku berpikir dialah perempuan satu-satunya yang mampu singgah di hatiku. Sampai saat ini pun perasaan itu tak berubah. Aku masih mengaguminya, jantungku masih berdegup kencang saat berdua dengannya, sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya.
"Asal kamu tahu, Fi. Perasaanku masih sama, nggak ada yang berubah."
"Begitu pun aku, Ren. Tapi sayangnya, keluargaku dan keluargamu tidak dapat menerima hal ini."
Kepalaku tertunduk. Kupejamkan mata sembari merasakan sekujur tubuhku yang mulai memanas, menahan gejolak emosi yang meluap. Tiba-tiba saja kurasakan telapak tanganku menghangat, rupanya Fiya menggenggamnya. Energi positif yang ia miliki cukup tersalurkan dari sini. Luapan emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun pun kembali mereda.
Aku dan Fiya mengarungi pikiran masing-masing. Mulut terkunci rapat, namun mata sibuk memandang deburan ombak dengan latar senja di belakangnya. Mencoba mencari solusi yang mungkin saja terselubung di setiap buih-buih ombak. Begitu asyiknya aku menyelami pikiranku, tiba-tiba saja Fiya mengucapkan sesuatu.
"Ren, kurasa kamu harus sholat. Barusan aku dengar adzan Maghrib. Makasih buat pertemuan tak terduga ini. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Ini kartu namaku, hubungi aja kapan pun kamu mau. Aku pulang dulu, ada jadwal sembahyang di gereja. See you, Ren!"




































