lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Pict source click here!

Tak diragukan lagi, langit sungguh sangat lihai mengukir semburat senja di ufuk cakrawala. Terutama senja di tepi pantai ini. Memandanginya walau hanya sekejap cukup memberikan efek candu yang luar biasa. Bagaikan morfin yang singgah di dalam aliran darahku. Herannya pantai ini sangat sepi pengunjung, mungkin banyak yang belum tahu kalau senja tercantik hanya ada di sini. Walau begitu, biasanya aku justru menikmati kesunyiannya.

"Jadi, how's life, Ren?"

Kalimat yang meluncur dari bibir mungilnya sungguh memecah keheningan. Ditambah debar jantungku yang semakin kencang membuat suasana di pantai ini tak lagi seindah biasanya. Sudah sekian lama jantungku tidak bekerja se-ekstra ini. Kalau saja aku bisa melihat bagian dalam organ tubuhku, mungkin sekarang lemak-lemak jahat di sekitar jantungku sudah luruh akibat begitu kencangnya jantungku berdetak bersamaan dengan luruhnya akal sehatku.

Tanpa harus melontarkan pertanyaan basa-basi itu pun aku tahu bahwa dia sebenarnya sudah paham betul dengan kondisiku saat ini. Siapa pula yang tak bisa menerka-nerka kondisi orang yang datang ke pantai dengan baju dan rambut berantakan, lengan baju dilipat asal-asalan, mata bengkak, dan wajah pucat bagaikan anemia? Aku rasa, anak kecil pun mengerti bahwa kondisiku tidak sedang baik-baik saja.

"Not bad, I think."

"Jangan sering begadang, Ren. Kantung matamu udah hampir menyamai kantung ajaib Doraemon, tuh."

Sial! Dia masih bisa mengajakku bercanda, padahal hatiku sudah menjerit-jerit tak karuan. Aku kembali memusatkan pandanganku ke ombak yang bergulung-gulung di depan sana. Mencoba mencari ketenangan supaya aku mendapatkan kembali akal sehatku yang mungkin sudah hilang tertimbun pasir di pantai ini.

Aku memang rutin mengunjungi pantai ini setiap dua kali dalam seminggu. Memandang matahari terbenam, sembari melepas segala penat yang menjerat diriku. Pertemuanku dengannya saat ini betul-betul di luar dugaan. Bahkan aku tak menyangka akan bersua kembali dengannya. Wajar saja kalau aku benar-benar kaget saat melihat sosoknya berdiri di depanku. Setelah sekian lama kami tak bertemu, senyumnya tak berubah. Masih sama seperti dulu, sama-sama mampu menyeret tubuhku supaya berada dalam pelukannya.

Kalau saja boleh kukatakan, sebenarnya dia merupakan perempuan yang cukup menarik. Berperawakan tinggi dan langsing bak model brand ternama Victoria's Secret. Saat dia berbicara, bukan hanya bibirnya yang mampu berucap, bahkan matanya pun ikut berbicara. Dalam sekali tatap, aku yakin lelaki mana pun akan jatuh tersungkur di hadapannya, memohon untuk menjadi kekasihnya. Bodohnya, aku termasuk salah satu lelaki yang juga jatuh tersungkur di hadapannya.

Rupanya dia berusaha untuk mencairkan suasana di antara kami berdua dengan melontarkan candaan yang sama sekali tak lucu. Maka dengan enggan kuulaskan senyum tipis untuk membalas perkataannya barusan. Lalu kembali sibuk menenangkan hatiku yang dari tadi menjerit-jerit di dalam dada.

"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini. Aku juga nggak menyangka bakalan ketemu kamu. Takdir Tuhan, mungkin?"

Takdir Tuhan? Aku tersenyum samar sembari melempar kerikil ke arah deburan ombak.

"Sudah delapan tahun ini aku tinggal di Jerman, Ren. Maaf aku nggak pernah sekali pun menghubungi kamu. Bahkan kurasa kamu sudah tahu alasannya."

Aku mengangguk lemah sembari tetap mengunci mulut dengan rapat.

"Mungkin berat menjalani hari-hari menyedihkan di sini. Aku pun juga sadar betul kalau aku pergi dengan sangat mendadak. Membiarkanmu berusaha sendirian keluar dari cengkeraman begitu banyak lara."

"Sejauh ini aku baik-baik aja, nggak usah terlalu khawatir. Kamu sendiri gimana di Jerman?"

"Aku juga baik-baik aja."

Aku sangat yakin, dia pergi ke Jerman memang semata-mata untuk menghindariku. Aku pun juga yakin betul, dia tidak baik-baik saja di sana. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja saat dia pergi sembari membawa begitu banyak lara.

"Banyak sekali hal yang kulakukan di Jerman, tapi entah kenapa aku tetap nggak bisa lupa, Ren."

"Lupa? Mengenai apa?"

"Memangnya apa lagi kalau bukan tentang kita."

Sudah sekian tahun lamanya aku terjerembab dalam perasaanku sendiri dan tak dapat bangkit kembali. Apakah begini caranya cinta bekerja? Bibir tersenyum lebar, namun hati tersayat-sayat. Anehnya, aku dengan ikhlas menikmati perasaan itu. Apa betul ini namanya cinta? Atau aku hanyalah seorang bodoh yang bertahun-tahun menikmati lara?

Tak dapat kupungkiri, Fiya, perempuan yang sedang duduk di sampingku, mampu membuat perasaanku membumbung tinggi lalu menghancurleburkannya pada saat bersamaan. Aku sendiri tak tahu, aku memang bodoh atau karismanya sungguh mampu membuatku berpikir dialah perempuan satu-satunya yang mampu singgah di hatiku. Sampai saat ini pun perasaan itu tak berubah. Aku masih mengaguminya, jantungku masih berdegup kencang saat berdua dengannya, sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya.

"Asal kamu tahu, Fi. Perasaanku masih sama, nggak ada yang berubah."

"Begitu pun aku, Ren. Tapi sayangnya, keluargaku dan keluargamu tidak dapat menerima hal ini."

Kepalaku tertunduk. Kupejamkan mata sembari merasakan sekujur tubuhku yang mulai memanas, menahan gejolak emosi yang meluap. Tiba-tiba saja kurasakan telapak tanganku menghangat, rupanya Fiya menggenggamnya. Energi positif yang ia miliki cukup tersalurkan dari sini. Luapan emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun pun kembali mereda.

Aku dan Fiya mengarungi pikiran masing-masing. Mulut terkunci rapat, namun mata sibuk memandang deburan ombak dengan latar senja di belakangnya. Mencoba mencari solusi yang mungkin saja terselubung di setiap buih-buih ombak. Begitu asyiknya aku menyelami pikiranku, tiba-tiba saja Fiya mengucapkan sesuatu.

"Ren, kurasa kamu harus sholat. Barusan aku dengar adzan Maghrib. Makasih buat pertemuan tak terduga ini. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Ini kartu namaku, hubungi aja kapan pun kamu mau. Aku pulang dulu, ada jadwal sembahyang di gereja. See you, Ren!"
Sangat disayangkan kalau menghabiskan dua bulan liburan cuma untuk guling-guling di kamar. Mungkin bapak dan ibuku juga berpikir demikian. Makanya bapak & ibuku ngajak aku main ke Malioboro untuk sekedar mengisi waktu liburan, sambil jalan-jalan kaki di Malioboro, lumayan kan olahraga.

Siapa yang nggak tahu Malioboro? Salah satu tempat wisata yang jadi icon-nya kota Yogyakarta. Kayaknya para wisatawan bakalan merasa kurang afdol ya kalau udah sampai di Yogyakarta tapi nggak mampir ke Malioboro. Jadi Malioboro ini semacam pusat perbelanjaan gitu. Sepanjang jalan penuh dengan penjual. Ada yang jualan kaos-kaos batik, pernak-pernik semacam kalung atau gantungan kunci, macem-macem deh pokoknya.

Sejujurnya rasanya agak aneh juga sih kalau aku, sebagai orang asli Yogyakarta, jalan-jalan di Malioboro. Aku sendiri sih yang ngerasa aneh, soalnya kayak berasa jadi 'turis' dalam beberapa jam  di kota kelahiran sendiri hehehe. Tapi it's ok lho ya kalau kalian orang asli Yogyakarta tapi pengen jalan-jalan di Malioboro, nggak masalah kok. Itu tadi cuma ungkapan perasaanku aja.

Jadi bapak tiba-tiba secara random ngajakin aku sama ibu untuk ke Malioboro pagi-pagi banget. Kalau ditanyain "Ngapain pagi-pagi ke Malioboro?", jawaban bapak adalah "Nyari sarapan". Oke, jadi kami nyari sarapan jauh-jauh sampe Malioboro, emang kami hobi wisata kuliner. Sekitar jam 7 pagi kami udah berangkat dari rumah. Sampai Malioboro mungkin sekitar jam 7.30 pagi, aku kurang tau pastinya karena sampai sana aku udah nggak ngecek jam. Ternyata di titik 0 udah ada senam pagi, Bung! Aku baru tau juga sih, karena ini emang pertama kalinya aku pagi-pagi ke Malioboro.



Karena tujuan awal tadi adalah nyari sarapan, maka sesampainya di Malioboro kami langsung cul nyari makan. Mungkin beberapa di antara kalian bertanya-tanya ya, kami nyari sarapan di mana nya? Iya, jadi di sepanjang pinggir-pinggir jalan Malioboro itu ada yang jual makanan. Menunya pun macem-macem, ada gudeg, pecel, soto, dan lain-lain, mungkin kalian bisa coba langsung kapan-kapan. Bapakku emang dari rumah udah berencana beli pecel, jadi yaudah langsung beli pecel aja. Sedangkan aku sama ibuku pengen yang anget-anget, jadi kami berdua beli soto ayam. For your information, harga soto ayamnya Rp10.000 per porsi.

Nampak menggiurkan ya? Aku aja ngiler pas upload foto ini heu :( 

Temen-temen pada penasaran nggak, kira-kira kalau udah pesen makanan begini, makannya di mana? Duduk di mana? Karena makanan ini dijual oleh pedagang di pinggir jalan banget, otomatis nggak ada tempat yang memadai untuk makan. Jadi kalau mau makan harus duduk di kursi-kursi yang ada di Malioboro itu lohh, kalian pada tahu kan? Untuk lebih jelasnya, bisa lihat foto di bawah ini. Atau kalau pedagangnya nyediain tikar, ya bisa banget makan sambil duduk di tikar.



Karena tujuan utama, yaitu nyari sarapan, sudah tercapai, akhirnya kami jalan-jalan ke Benteng Vredeburg. Sebenernya aku juga udah pernah masuk ke sana waktu Study Tour kelas 5 SD, tapi berhubung mau jalan-jalan aja ngabisin waktu jadi ya teteup masuk. Sekalian me-recall ingatan waktu kelas 5 SD.



Jadi beginilah penampakan luar Benteng Vredeburg. Itu si emak minta difotoin hehe. Waktu masuk ke Benteng Vredeburg, sempat deg-degan lihat loket tiket, takut harganya mahal. Tadinya aku kira tiket masuknya seharga Rp15.000-Rp20.000 per orang, dan rupa-rupanya aku tertipu. Ternyata tiket masuknya MURAH BANGET!! HANYA Rp3.000 PER ORANG!



Aku sama ibuku lanjut berkeliling Benteng Vredeburg, dan bapakku duduk-duduk aja di sana. Maklum ya ibu-ibu sukanya minta difotoin hehe. Aku malah jadi tukang foto deh di sana.





Jujur aja sebenernya aku nggak terlalu meng-explore Benteng Vredeburg. Jadi aku kasih tahu informasi yang aku tahu aja ya hehe. Di sana ada beberapa gedung terpisah yang dipakai untuk menaruh diorama-diorama. Ruangannya pun ber-AC dan bersih, jadi sangat nyaman. Menurutku ruangannya agak serem sih kalau kalian explore-nya cuma sendirian. Soalnya ruangannya bener-bener sepi dan berlorong-lorong, dan dioramanya pun isinya patung-patung kecil gitu. Dalam imajinasi terliarku, aku ngebayangin patungnya hidup sendiri kayak di film Toy Story hahaha. Mohon maaf, tingkat imajinasi saya terlalu tinggi.



Sepenglihatanku kemarin, gedung-gedung di sana dipakai untuk menaruh diorama-diorama sih, sisanya tanah lapang kayak foto di atas ini. Enak banget dipakai buat lari-larian dan glundung-glundung. Aku baru tahu juga nih, guys, ternyata di sana ada persewaan sepeda kayuh gitu. Sepedanya bentuknya unik-unik, macem-macem. Sayangnya aku lupa nanya harga sewanya berapa.


Oh iya, kalau di Benteng Vredeburg nggak usah takut tersesat ya, soalnya udah ada penunjuk jalan kayak gini di setiap sudutnya. Jadi tenang aja, jangan khawatir nggak tahu arah hehehe.

Ya udah, mungkin sekian dulu cerita jalan-jalannya. Kapan-kapan cerita lagi kalau punya bahan hehehe. See u!

Mumpung masih suasana lebaran nih, sebelum aku mulai cerita panjang lebar, aku mau ngucapin mohon maaf lahir batin buat teman-temanku, keluargaku, dan khususnya bagi para pembaca blogku yang senantiasa rela membaca tulisan yang cukup berantakan ini hehe. Semoga amal ibadah selama sebulan puasa kemarin diterima Allah SWT ya, kawan-kawan!

Mengingat bulan Juli ini aku masih libur kuliah, aku sama temen-temenku (Inas, Lintang, Risma, Lisa, Devita) berencana untuk main. Bahkan rencana main ini udah dibahas sejak bulan Juni. Sungguh persiapan liburan yang sangat matang hahaha.

Kira-kira aku sama temen-temen mau main kemana hayoo? Ada yang bisa menebak?

Awalnya kami berencana main ke Pantai Wediombo nih, sengaja nyari yang sepi (walaupun sebenernya Pantai Wediombo nggak sepi sepi amat juga sih). Tapi ternyata Pantai Wediombo sangatlah jauh, jadi akhirnya kami mlipir ke Pantai Siung. Tadinya aku sempet mikir Pantai Siung bakalan se-rame apa kalau kami dateng pas weekend. Untungnya Pantai Siung nggak se-rame bayanganku sih. Jadi aku sama temen-temen bisa main dengan leluasa, karena nggak harus berjubel dengan pengunjung yang lain.

Perjalanan menuju Pantai Siung ini (dihitung dari Fakultas Teknik UGM) kurang lebih menghabiskan waktu 1,5 jam. Kami berangkat naik mobil Lintang dan disupirin bapak supir langganan keluarga Lintang (Big thanks to Mama Blogger -Mama Lintang- yang ikhlas meminjamkan mobilnya untuk dipakai krucil-krucil ke pantai dan rela membayar jasa bapak supir. Sekali lagi, makasih ya, Mama Blogger). Selama perjalanan, kami rame banget ngebahas banyak hal sampe ketawa ngakak. Pokoknya ada aja yang diketawain.

Akhirnya setelah lelah tertawa di dalem mobil, kami pun sampai juga di Pantai Siung. Kira-kira ada yang tahu apa yang kita lakukan pertama kali setelah sampai di pantai?
Bukannya langsung mengagumi keindahan pantai, tapi kami justru langsung menyerbu bapak penjual bakso tusuk. Inas sudah kelaparan karena nggak sempat sarapan di rumah. Berhubung aku juga mau mau aja kalau diajak makan, jadi yaudah kami turun mobil langsung jajan bakso tusuk di pinggir pantai. Ternyata eh ternyata, bakso tusuknya enak HAHAHAHA. Bukan cuma itu, selesai makan bakso tusuk pun kami langsung menyerbu bapak penjual telur gulung. Emang dasar wanita-wanita doyan makan (terutama aku sih hehehe).

Nah setelah selesai beli telur gulung, kami langsung jalan menuju tebing yang ada di sisi pantai.  Perjalanan menuju puncak tebing cukup membuat ngos-ngosan. Namanya juga tebing, jadi emang butuh effort untuk sampai di puncaknya. Kami berhenti di spot yang menurutku sangat sangat sangat nyaman untuk dipake glundung-glundung. Kenapa aku bisa berpendapat gitu? Karena di spot tersebut ada lahan yang lumayan luas dan diapit dinding-dinding tebing. Dijamin nggak kepanasan kalau mau glundung-glundung di sini karena dinding tebingnya menghalangi sinar matahari (nb: sinar matahari kehalang dinding tebing sekitar jam 11an pagi pas aku ke sana ya, jadi kalau kalian dateng di lain waktu aku juga nggak tau bakalan kepanasan enggak).


Ini penampakan dinding tebing yang aku jelasin tadi. Karena tempatnya emang bagus, jadi kami langsung cul foto. For your information, di balik hasil foto ini terdapat perjuangan yang keras. Kebetulan di sana nggak ada pengunjung lain, jadi kami harus foto mandiri pake fitur timer dari kamera HP. Sayangnya di sana juga nggak ada tempat yang bisa digunakan untuk alas HPnya, jadi dengan susah payah kami harus menggunakan tripod alami dari batu.



Ya, jadi beginilah perjuanganku supaya tripod alami dari batu bisa digunakan semaksimal mungkin. Alhamdulillah hasil fotonya nggak jelek-jelek amat. Iya kan?! Bilang aja iya biar aku seneng!

Selesai foto-foto dengan penuh perjuangan ini, kami lanjut menyusuri tebing. Jadi di deket lokasi foto kami ini, ada tebing yang menghubungkan Pantai Siung dan Pantai Nglambor. Nah di tebing tersebut, udah dipasangin jembatan dari bambu gitu supaya lebih mudah dilewatin. Tapi jembatannya nampak nggak kokoh... Agak serem rasanya waktu ngelewatin jembatannya. Ohiya, for your information lagi nih, ternyata untuk masuk ke daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Ngalmbor ini harus bayar Rp15.000. Kami sempat tertipu :( Jadi sebelum memasuki daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Nglambor ini, emang ada tulisan kalau harus bayar Rp15.000 tapi nggak ada petugas yang jaga. Jadi kami santai aja masuk, dikiranya nggak bayar. Walaupun sebenernya aku udah ada feeling nanti di dalem bakalan tiba-tiba ditagih. Dan.........TETOT! Ternyata feeling-ku benar! Lagi di tengah jalan, kami didatengin mas-mas penjaga, dimintain Rp15.000 buat biaya masuk.


Berhubung udah terlanjur bayar Rp15.000, makanya kami lanjut jalan aja deh. Kan sia-sia kalau udah bayar tapi nggak dipuas-puasin HEHEHE. 



Yaudah sih, di tebing ini kami cuma foto-foto aja. Kalau ada spot bagus, langsung berhenti untuk foto-foto dulu. Karena kami berenam, jadi ya kalo ada spot bagus gitu fotonya gantian satu-satu, agak memakan waktu sih. Tapi nggak papa soalnya pemandangannya bikin mata segeeer.


Pas di tebing ini sinar matahari sungguh membakar kulit. Soalnya yaa emang nggak ada tempat berteduh dan kami ke sana mungkin udah sekitar jam 11 atau 12 siang jadi udah kepanasan gitu. Oh iya, jangan harap di sini kalian bisa dapet sinyal ya. Aku pake t*lkomsel aja nggak ada sinyal wkwk. Itulah sebabnya aku males buka HP, jadi nggak ngecek jam juga.


Kami jalan terusss pantang berhenti, hingga akhirnya kami sampai di Pantai Nglambor. Di pantai ini kami cuma duduk-duduk berteduh karena udah mulai kehabisan tenaga. Risma juga lagi kena apes, karena sandalnya jebol HAHAHAHA kayaknya sih gara-gara kesandung waktu di tebing.

Selama berteduh di Pantai Nglambor ini, kami belajar ice breaking ala cofass PPSMB Palapa. Kira-kira siapa yang ngajarin? Siapa lagi kalau bukan Devita, si cofass PPSMB. Jadi sambil mengisi waktu, kami tepuk-tepuk tangan gitu buat belajar ice breaking. Dan ternyata lumayan menyenangkan, soalnya ini pertama kalinya buat aku. Lumayan kan Devita bisa belajar menangani adik-adik mahasiswa baru yang kebosanan sambil ngehibur kami yang sedang kelelahan.

Karena jam udah menunjukkan pukul 1 siang, jadi kami pun menyudahi ice breaking ala PPSMB Palapa di Pantai Ngalmbor dan balik ke Pantai Siung.
Nggak afdol namanya kalau ke pantai tapi nggak mainan air, benar begitu teman-teman? Jadi karena dari tadi kami belum mainan air, akhirnya pas udah balik ke Pantai Siung kami mainan air bentar. Cuma membasuh kaki pakai air pantai biar afdol. Setelah merasa kaki udah lumayan basah, akhirnya kami pun pulang karena kami udah kelaparan banget.

Yak mungkin sekian dulu cerita jalan-jalan ke Pantai Siung (+Pantai Nglambor) nya. Makasih buat Lintang dan Lisa yang rela HPnya dipake buat foto-foto heuheu. Sampai jumpa di postingan berikutnya (semoga punya bahan untuk nulis ya hahaha)!


Sudah mantab betul hati ini memilih program studi Teknik Industri UGM untuk jadi naungan selama empat tahun ke depan. Bahkan yang dulunya sama sekali nggak menarik perhatianku, sekarang justru program studi inilah yang dengan nyaman singgah di hati. Waduh bahasaku gini amat yak wkwk.

Iya, jadi emang dulu sempat daftar sekolah kedinasan yang udah sejak kelas 1 SMA kudambakan. Bahkan di SMA pun aku udah mempersiapkan diri dengan memilih mata pelajaran peminatan ekonomi & akuntansi (aku ambil jurusan IPA, dan ada beberapa mata pelajaran lintas minat pilihan, salah satunya adalah ekonomi & akuntansi). Bukan cuma itu, aku pun udah coba tryout ujian seleksi masuk sekolah kedinasan di sana-sini, udah olahraga tiap pagi untuk siapin tes kesehatan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Aku nggak diterima di sekolah kedinasan, dan justru keterima di program studi yang bahkan nggak pernah sekalipun aku mencari tahu informasi tentang program studi ini wkwk emang parah sih. Jadi setelah masuk, aku nggak ngerti tetek bengek mengenai program studi yang aku masuki ini.

Setelah aku menghabiskan satu tahun kuliah di prodi Teknik Industri ini, aku sadar ternyata pilihan Allah emang paling oke! Aku dikelilingi orang-orang baik di sini. Ada yang peka-nya nggak ketulungan, ada yang sifat peduli-nya tak bisa ditandingi, yang kocak-kocak macam aku ini juga ada. Dan tanpa kusadari, aku mulai jatuh hati. Bapak udah sempat menyarankan aku untuk coba daftar sekolah kedinasan lagi, tapi aku dengan tegas menolak saran Bapak. Kenapa? Ya karena itu tadi, aku udah jatuh hati sama prodi ini, terutama temen-temennya.

Selama setahun ini, aku dan temen-temen angkatanku udah melewati banyak hal. Mulai dari PPSMB Palapa, Optimasi, sampe UAS semester 2, dan akhirnya liburan.
For your information, angkatanku ini punya 3 ketua angkatan (ketang) yang dipilih saat Closing Optimasi; 1 ketua angkatan general, 1 ketua angkatan akademik&atletik, dan 1 ketua angkatan kekeluargaan&support. Oh iya, untuk tambahan informasi juga nih, ketua angkatan akademik&atletik ini semangat banget nahan aku untuk tetep kuliah di sini. Dia rajin banget ngingetin kalau ada informasi beasiswa atau penurunan UKT atau hal-hal lain yang sekiranya bisa menahanku untuk tetap berkuliah di sini. Sebenernya ini juga salah satu alasan kenapa aku nggak mau daftar sekolah kedinasan lagi sih. HEHEHE makasih ya Aziz, ketua angkatan akademik&atletikkuu :)
Ketua angkatan kita ini macem-macem banget sifatnya, ada yang alim banget, ada yang datar banget, ada juga nih yang terbully WKWKWK nggak paham juga aku, kenapa ada ketua angkatan yang terbully. Eh walaupun sifatnya macem-macem, tapi cara mereka melaksanakan tanggung jawab nggak main-main lho. Nggak deng, alay :) MAAFKAN AKU PAK KETANG!

Jadi nih aku paling seneng kalo ketua angkatannya ngajakin main atau ngapain lah yang sekiranya bisa bikin satu angkatan ini menyatu. Emang yahud! Bikin aku betah aja di Teknik Industri :(
Tiap lagi ada waktu senggang pas minggu-minggu ujian, ketangnya semangat banget ngajakin anak-anaknya main. Sepertinya mereka paham otak kita butuh refreshing wkwk. Kemarin sempat main ke pantai, tapi aku nggak ikut karena jauh aing takut. Terus waktu itu pernah ke Candi Ijo juga. Kalo yang ini sih aku ikut dong, dengan segala pertimbangan yang membuatku kelamaan membuat keputusan mau ikut apa enggak. Hingga akhirnya Evi memaksaku buat ikut, terus aku maksa Intan buat ikut juga. Jadi ini pemaksaan secara berantai. Tapi aku nggak nyesel juga sih ikut main. Soalnya bagus banget pemandangan di Candi Ijo wey!!

maaf kualitas fotonya emang nggak bagus wkwk


Eits jangan tertipu dengan muka-muka bahagia kami di foto ini ya. Soalnya aslinya lebih bahagia dari ini HEHEHEHE. Jadi banyak halang rintang waktu kita main ke Candi Ijo, dari yang dompetnya Dida jatuh di jalan (untung dikasih tau sama ibu-ibu yang liat), terus HP Orbit (Dialah ketang kekeluargaan&support, jangan ge-er ya Bit namamu kusebut di sini) yang hampir aja mau diambil orang, dan tas Dida (lagi lagi Dida, dia emang ngrepotin) yang juga hampir mau diambil orang. Aku sendiri nggak tau mereka sadar enggak barangnya terancam raib, soalnya yang lihat barang mereka hampir dicuri cuma aku :( Iya, aku se-aware itu WKWK.

Bukan cuma itu aja, kemarin pas lagi minggu-minggu UAS semester 2, ketangnya juga ngajakin olahraga dong biar sehat. Tapi aing nggak ikut wkwkwk. Terimakasih ketang atas usahanya untuk menyatukan angkatan. Semoga nggak capek ya..

Lalu angkatanku juga pernah ditugasi mengurus suatu acara, namanya Closing Industrial League. Wah itu event hectic sih, karena cuma dikasih waktu beberapa minggu untuk menyiapkan segalanya. Mati-matian kami danus-an (dana usaha), tiap hari jual ini itu, sampe apa pun barang atau makanan yang potensial untuk dijual pun kami jual.

Alhamdulillah acara Closing Industrial League ini berjalan lancar, dan aku juga berbahagia di sana karena memang ada hal yang membuat bahagia wkwk apaan dah.

Ini foto beberapa jam sebelum acara dimulai. Masih bulukan belum mandi.
Dan ini dia orang yang rela kupingnya panas kusambatin terus selama satu tahun ini.
Badannya selalu enak dipeluk dan dijadikan sandaran kalo lagi pengen nangis WKWK.
Dan satu hal lagi tentang dia yang sempat membuatku terkejut : ternyata dia romantis banget walaupun anaknya jutek :"
Maaci ya, Lintang <3

Ini juga salah satu orang yang kupingnya rela denger sambatanku wkwk.
Dia yang ngajarin aku untuk selalu mengutamakan keluarga.
Orangnya tulus banget, tidak bucik, mau berbagi ilmu.
Halah baik-baiknya mulu yang kusebutin yak WKWK tapi ni anak juga kadang rese sih kalau lagi ngatain aku :(
Tapi nggak papa, aku tetep sayang.
Maaci ya, Inas <3

Terus ni anak yang sukanya pesimis dan bodohnya hal itu ditularkan ke aku :(
Tapi kenapa ya Ray aku masih mau temenan sama kamu? WKWKWK nggak deng, bercanda.
Gini gini anaknya romantis juga kayak Lintang, walaupun selingkuhannya banyak.
Maaci ya, Ray :p
Nb : bukan selingkuhan beneran ya, bercanda doang. Kasian, takut Ray nggak laku.


Foto ini diupload bukan karena ada tendensi tertentu.
Kebetulan pas ada mukaku, jadi upload aja deh.
Jangan marah ya Man fotomu kupajang wkwk. Mukanya Firman begitu pula.
Nggak papa Man, jodohmu nggak akan menilaimu dari penampilan fisik kok WKWKWK

Nb : Aku nggak lagi iklan air mineral ya HEHE.


Ini foto random.
Aku lagi jalan dan melihat ada kamera.
Langkahku terhenti, dan kemudian aku berpose secara random pula.


Ini temen buddies akuuuu, yang selama Optimasi selalu bersama.
Sayangnya kita belum ngadain buddies terakhir nih! Apa-apaan ini kakak buddies saya!


Dan ini temen-temen divisi konsum yang rela nggak makan konsum demi kelancaran acara :(
Terimakasih, aku jadi harus makan pecel lele di luar :))
Nb : Koornya ilang entah kemana.


Maafkan aku ya Lisa & Firdia. Badanku yang sangat ramping dan slim ini menutupi kalian.


Halo gaiiss, aku numpang nyempil ya HEHEHE


Jangan bosen dulu ya sama ceritaku. Masih ada kegiatan yang mau aku ceritain nih hehehe. Terus nggak cuma Closing Industrial League aja nih, kita seangkatan juga ngadain makrab (malam keakraban) dong! Kita makrab bulan Februari, di Kaliurang. Adem euy tempatnya! Dan lagi-lagi, aku bekerja di divisi konsum. Apakah makanan sudah mendarah daging dalam diriku?

Lihat aku pake jaket kan? Iya emang aku kedinginan sampe masuk angin, iya aku emang se-lemah itu wkwk.
Oh iya ini foto udah sambil nahan ngantuk malem-malem karena siangnya nggak sempat tidur.


Karena badanku tumbuh subur dan menjulang tinggi, atas request Fernanda, saya harus membungkukkan badan saat berfoto.


Jiwa-jiwa divisi konsum udah keliatan belum? Kemana-mana bawa makanan wkwk
Foto aja tetep pegang makanan.



Rara (perempuan berkaos merah di sebelah kiri) barusan banget jatuh sebelum foto ini dilaksanakan.
Kalau foto ini bisa dizoom, dari kaki Rara keliatan ada darah-darahnya gitu.
Iya, abis itu dia ke rumah sakit. Terus dia jadi harus pake rok ke kampus.


Nah karena aku merasa tulisan ini udah terlalu panjang, takutnya pada bosen, jadi aku sudahi saja cerita tentang temen-temen angkatan aku di Teknik Industri.
Untuk temen-temen yang mungkin nggak disebutkan namanya di sini, sebenernya itu karena aku nggak punya foto kalian aja. Jadi jangan sedih, kalian tetep punya tempat di hatikuuu <3

Sebagai penutup, aku kasih foto angkatan di tugu teknik deh. Fotonya masih fresh from the oven banget, karena barusan banget fotonya, setelah UAS semester 2 selesai. Tambahan informasi : ini pertama kalinya aku foto di tugu teknik WKWK. Dah sekian dulu dari aku. Semoga liburan ini aku bisa cerita-cerita lagi ya di blog.


Hujan. Hujan memang selalu berhasil membuat kenanganku kembali menguap. Kemudian dengan semena-mena mengetuk pintu menuju memoriku. Satu hal yang sangat kusesali adalah memoriku justru dengan senang hati membukakan pintu untuknya. Apakah begitu hebatnya kenangan membuai memoriku?

Source : click here!

Membelah jalanan kota Jakarta sudah bukan hal baru bagiku. Sejak matahari mulai terbit hingga posisinya digantikan oleh rembulan, aku habiskan waktu dengan mengelingi kota ini. Sehingga jangan kaget kalau aku hafal betul dengan setiap sudut di kota Jakarta.

Sebagai supir taksi online, sudah pasti aku akan bertemu orang-orang baru dengan berbagai tingkah lakunya. Demi mendapatkan sepeser uang, aku harus selalu bersikap ramah dengan penumpang taksi walaupun ada saja beberapa orang yang ngomel-ngomel tidak karuan. Entah mereka sedang PMS atau memang ada masalah yang menimpa, aku sama sekali tidak memedulikannya. Hal itu bukanlah urusanku. Aku hanya membutuhkan uang mereka. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya aku mematahkan prinsipku sendiri saat bertemu dengannya.

Kubuka kaca jendela mobilku.
“Dengan Kak Nabila, ya? Silakan masuk!”

Nabila. Penumpang pertama hari ini. Seorang wanita dengan paras yang menawan dan senyum yang merekah. Rambutnya panjang, hitam legam. Pakaian yang ia kenakan pun cukup sopan dan tertutup, sepertinya ia akan berangkat bekerja. Kurasa kami seumuran. Sebenarnya bukan pertama kalinya aku mendapatkan penumpang yang menawan seperti dia. Namun, kurasa dia berbeda.

“Mas, udah tahu tempat tujuannya, kan?”
“Iya, Kak. Udah tercantum kok di handphone saya.”

Kulajukan mobilku perlahan. Selama beberapa menit, hanya ada keheningan yang tercipta. Merasa penasaran dengan apa yang Nabila lakukan, akhirnya kuputuskan untuk melihatnya dari kaca spion. Ia sibuk dengan tumpukan kertas yang tebal di tangannya.

“Kalau boleh tahu, Kak Nabila kerja di mana? Kok saya lihat-lihat sepertinya sedang sibuk.”

Bukannya segera memberi jawaban, Nabila justru mengulaskan senyum di bibir mungilnya. Memang benar kataku, Nabila sangat menawan. Bahkan jantungku berdegup kencang hanya karena melihat senyumnya.

“Saya rasa Mas sudah tahu tempat tujuan saya. Di situlah saya bekerja,” jelas Nabila sambil terkekeh.

Aku tersipu malu. Bodohnya diriku. Padahal sudah jelas aku sedang mengantarnya ke tempat kerjanya. Aku pun diam. Keheningan mulai kembali tercipta, hanya terdengar suara kertas-kertas yang dibuka silih berganti.

“Mas sudah lama jadi supir taksi online?” Nabila bertanya kepadaku setelah urusannya dengan tumpukan kertas itu sudah selesai.

“Sudah sekitar tiga tahun, Kak. Kak Nabila sendiri sudah lama bekerja di perusahaan itu?”

“Ya lumayan lama. Sudah lima tahun saya kerja di sana. Mas, saya nggak terbiasa dipanggil ‘Kak’. Panggil ‘Nab’ saja. Sepertinya kita seumuran.”

“Oke, Nab. Kalau begitu, panggil saya ‘Adham’.”

Demikianlah awal dari segala perasaan campur aduk yang tiba-tiba menghantui diriku.

Percakapan kami berlanjut. Kemudian aku menyadari hal menarik lain yang ada pada diri Nabila. Nabila sangat menyenangkan. Selama perjalanan menuju tempat kerjanya, kami membicarakan banyak hal. Sehingga aku tahu dari mana kota asalnya, ada di mana keluarganya, hingga mengapa ia bisa sampai di Jakarta. Dia sangat pandai berkomunikasi. Dari caranya berbicara, dapat kupastikan dia adalah perempuan cerdas dan berwawasan luas. Dari cerita yang ia sampaikan kepadaku, dapat kusimpulkan dia bukanlah perempuan manja. Dia benar-benar seorang perempuan yang menarik.

“Sudah sampai tujuan, Nab.”
“Terimakasih, Dham.”

Pertemuan kami cukup sampai di sini.

***
Aku kembali melanjutkan rutinitasku sebagai supir taksi online. Kesibukan yang kujalani membuatku sempat melupakan pertemuanku dengan Nabila tempo hari. Sudah sekian penumpang yang aku antarkan ke tempat tujuan dengan selamat. Namun tak ada penumpang yang menarik perhatianku.

PING!
Pemberitahuan pesanan masuk dari aplikasi taksi online-ku. Aku buru-buru menerimanya. Rejeki tidak boleh ditolak, batinku.

“Silakan masuk!”
Seperti de javu.

Penumpangku bergegas masuk.
“Lho, Adham?”

Aku terkejut melihat penumpangku. Bukan main.
“Nab! Aku nggak sadar kalau kamu yang order,” ucapku sambil terbahak.

Nabila. Perempuan istimewa yang kutemui tempo hari kembali memesan taksi online ini. Aku beruntung bertemu dengannya lagi. Sepertinya semesta mendukungku kali ini.

Layaknya teman akrab yang sudah lama tak bertemu, aku dan Nabila mengobrol cukup banyak. Benar-benar perempuan istimewa. Kuakui, Nabila bukanlah tipe perempuan yang tertutup. Sehingga mudah saja baginya untuk akrab dengan orang baru, termasuk aku. Baru bertemu dua kali, tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya.

Sesampainya di tempat tujuannya, Nabila bergegas turun. Namun aku mencegahnya.

“Nab, boleh nggak aku ajak kamu untuk makan bareng nanti malam?”
Lancang. Lancang sekali. Baru dua kali bertemu, aku sudah berani mengajaknya makan malam bersama?

Gila! Aku sudah gila! Kalimat itu terlontar begitu saja. Benar-benar bodoh!

Tak perlu menunggu lama, Nabila segera memberikanku jawaban. Jawaban Nabila pun cukup mengejutkan. Dia menganggukkan kepalanya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Kemudian pergi meninggalkanku.

***
Aku duduk di ujung ruangan rumah makan ini. Aku sengaja memilih meja untuk dua orang supaya aku dapat leluasa mengobrol dengan Nabila, berdua saja. Pilihan yang tepat, batinku.

Beruntunglah aku bekerja sebagai supir taksi online. Karena pekerjaanku ini, aku bisa mendapatkan nomor ponsel Nabila. Cepat-cepat aku mengiriminya pesan. Memberitahunya di mana lokasi makan malam kami.

Sudah tiga puluh menit aku menanti kedatangan Nabila. Hingga akhirnya aku melihatnya memasuki rumah makan ini dan berjalan mendekatiku. Nabila menepati janjinya. Benar-benar perempuan istimewa. Kuharap kali ini semesta benar-benar mendukungku.

“Halo, Dham. Maaf terlambat. Tadi aku harus menunggu seseorang.”
“Oh, bukan masalah. Silakan duduk, Nab.”
“Terimakasih.”

Nabila pun segera duduk di hadapanku. Namun ternyata ada seorang laki-laki yang datang bersamanya.

“Ngomong-ngomong, kalau boleh tau, dia siapa?”
“Oh iya, perkenalkan. Ini Irfan, suamiku.”


Alhamdulillah, hasil dari nulis kilat selama 7 jam saja

Pict source click here!

Tahun 2017 lalu, saya resmi menjadi seorang mahasiswa baru jurusan Teknik Industri di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebagai mahasiswa, sudah pasti saya membutuhkan banyak perlengkapan untuk mendukung kegiatan perkuliahan, salah satunya adalah laptop.

Tentu mahasiswa Teknik Industri di universitas saya sudah tidak asing lagi jika mendengar kata "Gamtek". Gamtek itu sendiri sebenarnya apa sih? Gamtek merupakan akronim dari Menggambar Teknik, salah satu mata kuliah yang ada di jurusan Teknik Industri. Bukan hal aneh lagi jika mahasiswa Fakultas Teknik menemui mata kuliah yang satu ini. Karena memang seorang engineer diharapkan mampu menggambar maupun membaca gambar teknik.

Lha terus apa hubungannya Menggambar Teknik sama laptop?

Mata kuliah Menggambar Teknik ini sebenarnya bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu manual dengan kertas gambar atau menggunakan software. Kalau untuk menggambar manual sih memang saya nggak butuh laptop. Saya hanya perlu kertas gambar, pensil, penghapus karet, busur, jangka, penggaris, dan tetek bengek lainnya. Namun untuk Menggambar Teknik menggunakan software kan pasti saya butuh laptop. Karena software Menggambar Teknik ini nggak main-main, jadi laptopnya pun juga nggak boleh asal-asalan dong. 

Kebetulan saya juga hobi menulis. Apabila saya ada waktu luang, sudah dapat dipastikan saya akan duduk diam di depan laptop sambil menuangkan ide dari kepala saya. Apalagi pada saat liburan seperti ini. Pasti saya akan sibuk ketik-klik-ketik-klik. Sebenarnya menulis pun nggak harus pakai laptop, karena ditulis manual pakai kertas dan pensil pun bisa. Sayangnya, dari sekian banyak pengalaman saat saya menulis manual pakai kertas dan pensil, saya suka tiba-tiba nge-blank di tengah perjalanan. Kenapa bisa gitu? Karena kecepatan saya berpikir lebih cepat daripada kecepatan saya menulis. Sebagai ilustrasi nih, ide-ide di kepala saya sudah berangkat naik pesawat, tapi tangan saya masih sibuk packing barang bawaan di rumah. Otomatis kan tangan saya ketinggalan. Itulah sebabnya sekarang saya sudah mulai menulis banyak hal menggunakan laptop, karena mengetik akan lebih cepat daripada menulis manual.

Lalu kira-kira laptop apa ya yang cocok untuk mahasiswa seperti saya?

Saya pun coba untuk searching laptop yang sekiranya pas. Pas untuk menunjang kegiatan dan juga pas untuk kantong mahasiswa seperti saya.

Setelah sekian lama saya mencari-cari, akhirnya hati ini menjatuhkan pilihan pada ASUS X555QA.
Pict source click here!

ASUS X555QA berbasis prosesor AMD APU dengan sistem operasi Windows 10 di dalamnya. Kadang kalau kita beli laptop, mau nggak mau kita harus membeli dan menginstal sistem operasi secara mandiri kan.. Tapi jangan khawatir! Karena ASUS sudah melengkapi X555QA dengan sistem operasi Windows 10 tanpa kita harus membeli dan menginstall secara mandiri. Mudah ya.. Pas banget buat saya yang males nyari-nyari jasa install sistem operasi karena mager hehehe

Laptop ini berkapasitas penyimpanan 1 TB dengan RAM 4GB yang nggak bikin lemot. Otomatis saya bisa browsing sambil ngerjain tugas kuliah, khususnya tugas Menggambar Teknik, tanpa takut laptop nge-lag. Semakin cepat saya mengerjakan tugas, semakin cepat pula tugas itu selesai. Saya jadi punya waktu untuk santai-santai sambil buka Youtube atau sekedar bikin draf untuk cerpen saya.


Pict source click here!

Bukan hanya itu saja, keyboard pada laptop ini didesain ergonomis sehingga sangat nyaman digunakan. Bahkan ada numpad-nya juga di keyboard sisi sebelah kanan. Jadi bukan masalah lagi kalau saya mau mengetik dengan cepat, karena tombol-tombolnya sangat nyaman digunakan. Sekarang ucapkan selamat tinggal pada "nge-blank di tengah perjalanan" saat sedang menulis hehehe.

Touchpad nya pun cukup sensitif. Tentu hal ini juga perlu saya perhatikan dalam memilih laptop, karena touchpad akan lebih sering digunakan saat Menggambar Teknik. Cocok banget buat saya yang akan sering berhadapan dengan 'Gamtek'. Jadi nggak akan ada lagi tuh acara marah-marah karena touchpadnya nggak sensitif waktu ngerjain tugas Menggambar Teknik.

Tak ketinggalan, laptop ini juga disertai dengan Smart Gesture Technology yang memudahkan penggunanya untuk  melakukan zoom in dan zoom out, ataupun scroll up dan scroll down. Top banget lah yaa pokoknya!


Pict source click here!



Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD - Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com
Mengingat liburan kali ini aku gak pergi kemana-mana, aku tiba-tiba pengen share cerita liburanku pas aku kelas 3 SMA. Lebih tepatnya sih pas liburan tahun baru 2017. Kalo dipikir-pikir, aku bukannya belajar buat persiapan masuk perguruan tinggi, malah jalan-jalan hahaha emang dasar kacau nih. Jadi inget dulu kelas 3 SMA aku emang kacau kayak gak tau arah gitu sih. Soalnya aku bingung mau belajar USBN, UN, atau SBMPTN. Ya harusnya sih belajar semuanya tapi rasanya malah jadi burnout sendiri. Syukur alhamdulillah masih keterima di jurusan dan perguruan tinggi negeri yang aku pengen.

Kembali ke inti pembahasan yuuk! Tahun lalu budheku ngajak aku dan keluargaku liburan ke Malang. Wah kebetulan banget kan diajakin ke kota yang dari dulu pengen aku datengin. Dulu awal naik kelas 3 SMA, aku sama temen-temenku berencana main ke Malang biar gak stres ujian. Tapi akhirnya juga cuma wacana. Jadi aku pergi ke Malang sama keluargaku aja deh hehe.

Sejujurnya ini liburan yang sangat singkat sih. Soalnya kami sekeluarga cuma sehari di Malang hahaha. Literally sehari doang di sana. Kami ke Malang naik kereta api, perjalanannya cukup memakan waktu. Lama banget di kereta. Aku lupa sih berapa jam perjalanannya. Aku berangkat pagi-pagi, nyampe sana udah sore gitu. Tapi karena perjalanannya cukup lama, pas tau aku udah sampe Malang tu rasanya berbunga-bunga. Akhirnya penantian panjangku tercapai juga hahaha.

Sampe di stasiun di Malang (maaf ya aku lupa nama stasiunnya), kami langsung naik taksi menuju hotel. Di hotel udah tepar gitu saking lelahnya duduk seharian di kereta. Duduk doang ya padahal hahaha. Pas udah malem, kami pergi silaturahim ke rumah saudara. Aku gak begitu paham sih yang aku datengin ini siapa. Soalnya kayaknya sih saudara jauh. Jadi aku cuma ngikut ibu sama budheku aja.

Lalu keesokan harinya kami pergi, nyewa mobil beserta sopirnya. Awalnya kami mau ke Masjid Tiban, Museum Angkut, dan beberapa tempat wisata lain. Tapi dari sekian banyak tempat wisata, akhirnya kami cuma ke Masjid Tiban aja. Soalnya kata sopirnya kalo lagi liburan gini, tempat wisatanya rame. Berhubung kami ini males kalo ke tempat yang rame, akhirnya gak jadi ke sana deh. Ini beberapa foto waktu kami ke Masjid Tiban. 


Jangan bayangin Masjid Tiban ini kayak masjid-masjid yang biasa kita liat yaa. Kalo masjid pada umumnya kan biasanya ada satu ruangan luas yang dipake buat sholat. Gak ada lorong-lorongnya gitu. Nah, Masjid Tiban tu sama sekali gak kayak seperti masjid pada umumnya. Kalo sepemahamanku sih Masjid Tiban ini kayak Pesantren gitu lho. Dalemnya berlorong-lorong gitu. Sejujurnya aku agak takut masuk sini, soalnya kayak terisolasi gitu hehe. Karena emang aku agak takut berada di ruang yang terisolasi..


Masjid Tiban ini super gede. Sampe lelah kaki saya jalan-jalan di dalemnya. Sejujurnya masih banyak spot yang belum aku explore. Tapi ya berhubung sudah tepar, jadinya kami memilih untuk menyudahi saja perjalanan di Masjid Tiban ini




Setelah dari Masjid Tiban ini, kami bingung mau kemana lagi nih. Soalnya rencana awal sudah bubar. Akhirnya bapakku usul buat jalan ke Bromo. Bener-bener tanpa persiapan sih. Aku aja cuma pake sandal jepit loh :( Tapi ya udah gak papa ke Bromo.

Ternyata kalo mau ke Bromo tu ada beberapa spot gitu lho. Ada spot Teletubies, Pasir Berbisik, Penanjakan. Sama apa lagi ya, peeps? Maaf yaa, aku cuma inget itu.





Berhubung aku gak explore sampe penanjakan, jadi spot yang paling aku suka sih Bukit Teletubies. Asli bagus banget gak ngerti lagi. Sejauh mata memandang tu ijo semua. Berasa pengen glundung-glundung di atas hamparan rumputnya. Tapi beneran sih enak banget buat 'leyeh-leyeh' di sana.


Foto yang ini pas lagi di Spot Pasir Berbisik. Kenapa dinamain Pasir Berbisik ya? Karena emang pasirnya aduhai banget. Kalo lagi di Spot ini, jangan harap muka kalian bakalan tetep bersih ya. Dijamin pas pulang dari sini, mukanya penuh pasir-pasir halus. Aku sarankan jangan buka mulut lebar-lebar ya kalo di spot ini. Nanti mulut kalian kemasukan pasir, kan gak enak...

Cukup segini aja cerita liburan-sangat-singkat ku di Malang. Liburan yang cuma 3 hari (2 hari perjalanan pulang-pergi naik kereta api, 1 hari jalan-jalan di Malang) aja hahaha. Happy holiday, peeps!💜
Sudah dua minggu berlalu sejak UAS terakhir berlangsung. Terus kenapa? Emangnya ada yang istimewa? Gak ada sih sebenernya. Tapi ada sesuatu yang bakalan membuat jantung berdebar gak karuan nih. Yuhuuu nilai seluruh mata kuliah akan bertaburan di palawa. Memang ini nilai pertamaku karena emang baru semester satu hehehe. Keseluruhan nilainya sebenernya gak buruk-buruk banget sih, tapi aku belum merasa melakukan yang terbaik. It's ok besok bisa diperbaiki.

Terlepas dari perasaan mendebarkan saat buka palawa, aku tiba-tiba pengen cerita kenapa blogku aku kasih nama lluvia. Mungkin temen-temen belum tau ya lluvia tu apa sih? Sebenernya lluvia itu bahasa Spanyol yang artinya hujan.

Terus kenapa hujan menjadi pilihan? Karena aku selalu merasa tenang kalo lagi hujan. Oh iya, perlu aku perjelas ya, hujan yang membuat aku tenang itu bukan hujan yang deres pake petir dan kilat gitu. Melainkan hujan yang deres, tapi gak pake petir dan kilat. Jadi syahdu gitu lho rasanya.

pict source : click here!

Setiap hujan turun, rasanya kayak ada banyak ide berputar-putar di kepalaku. Entah apa pun itu idenya, pasti ada aja yang muncul. Bukan cuma memunculkan banyak ide aja, hujan juga bikin mood aku bagus (untuk beberapa kasus, hujan juga bisa bikin bete sih haha). Tapi sejauh ini kebanyakan hujan bikin aku seneng. Itulah sebabnya kebanyakan cerpen yang aku bikin setting nya pasti pas lagi hujan.

Hujan selalu bikin aku lebih memaknai sesuatu. Saat hujan tiba adalah saat di mana hatiku tiba-tiba berubah melow hahaha. Emang dasar anaknya melow ya 😁 Tapi ya itu sih intinya, hujan tu bikin aku nyaman banget. Itu sebabnya aku kasih nama blog ini "hujan" dengan harapan aku bisa selalu nyaman nulis di sini dan bisa menghasilkan karya yang seenggaknya bisa dinikmati orang lain. Ya walaupun aku menyadari, tulisan di blog-ku masih agak random gitu karena memang belum punya bahan untuk dituangkan di sini. Semoga ke depannya bisa punya bahan yang agak bermutu ya hehehe. Happy writing, peeps! 💙
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ►  2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ▼  2018 (10)
    • ▼  Juli 2018 (3)
      • Terjebak Senja
      • Jalan-jalan Random di Malioboro
      • Menjemur Diri di Pantai Siung
    • ►  Juni 2018 (1)
      • Naungan yang Kusebut "Rumah"
    • ►  April 2018 (1)
      • Hujan
    • ►  Februari 2018 (1)
      • Paras Membuai
    • ►  Januari 2018 (4)
      • Nge-Blank? Jangan Takut, Ada ASUS
      • Liburan Super Singkat
      • Lluvia
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes