lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.
Membelah jalanan kota Jakarta sudah bukan hal baru bagiku. Sejak matahari mulai terbit hingga posisinya digantikan oleh rembulan, aku habiskan waktu dengan mengelingi kota ini. Sehingga jangan kaget kalau aku hafal betul dengan setiap sudut di kota Jakarta.

Sebagai supir taksi online, sudah pasti aku akan bertemu orang-orang baru dengan berbagai tingkah lakunya. Demi mendapatkan sepeser uang, aku harus selalu bersikap ramah dengan penumpang taksi walaupun ada saja beberapa orang yang ngomel-ngomel tidak karuan. Entah mereka sedang PMS atau memang ada masalah yang menimpa, aku sama sekali tidak memedulikannya. Hal itu bukanlah urusanku. Aku hanya membutuhkan uang mereka. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya aku mematahkan prinsipku sendiri saat bertemu dengannya.

Kubuka kaca jendela mobilku.
“Dengan Kak Nabila, ya? Silakan masuk!”

Nabila. Penumpang pertama hari ini. Seorang wanita dengan paras yang menawan dan senyum yang merekah. Rambutnya panjang, hitam legam. Pakaian yang ia kenakan pun cukup sopan dan tertutup, sepertinya ia akan berangkat bekerja. Kurasa kami seumuran. Sebenarnya bukan pertama kalinya aku mendapatkan penumpang yang menawan seperti dia. Namun, kurasa dia berbeda.

“Mas, udah tahu tempat tujuannya, kan?”
“Iya, Kak. Udah tercantum kok di handphone saya.”

Kulajukan mobilku perlahan. Selama beberapa menit, hanya ada keheningan yang tercipta. Merasa penasaran dengan apa yang Nabila lakukan, akhirnya kuputuskan untuk melihatnya dari kaca spion. Ia sibuk dengan tumpukan kertas yang tebal di tangannya.

“Kalau boleh tahu, Kak Nabila kerja di mana? Kok saya lihat-lihat sepertinya sedang sibuk.”

Bukannya segera memberi jawaban, Nabila justru mengulaskan senyum di bibir mungilnya. Memang benar kataku, Nabila sangat menawan. Bahkan jantungku berdegup kencang hanya karena melihat senyumnya.

“Saya rasa Mas sudah tahu tempat tujuan saya. Di situlah saya bekerja,” jelas Nabila sambil terkekeh.

Aku tersipu malu. Bodohnya diriku. Padahal sudah jelas aku sedang mengantarnya ke tempat kerjanya. Aku pun diam. Keheningan mulai kembali tercipta, hanya terdengar suara kertas-kertas yang dibuka silih berganti.

“Mas sudah lama jadi supir taksi online?” Nabila bertanya kepadaku setelah urusannya dengan tumpukan kertas itu sudah selesai.

“Sudah sekitar tiga tahun, Kak. Kak Nabila sendiri sudah lama bekerja di perusahaan itu?”

“Ya lumayan lama. Sudah lima tahun saya kerja di sana. Mas, saya nggak terbiasa dipanggil ‘Kak’. Panggil ‘Nab’ saja. Sepertinya kita seumuran.”

“Oke, Nab. Kalau begitu, panggil saya ‘Adham’.”

Demikianlah awal dari segala perasaan campur aduk yang tiba-tiba menghantui diriku.

Percakapan kami berlanjut. Kemudian aku menyadari hal menarik lain yang ada pada diri Nabila. Nabila sangat menyenangkan. Selama perjalanan menuju tempat kerjanya, kami membicarakan banyak hal. Sehingga aku tahu dari mana kota asalnya, ada di mana keluarganya, hingga mengapa ia bisa sampai di Jakarta. Dia sangat pandai berkomunikasi. Dari caranya berbicara, dapat kupastikan dia adalah perempuan cerdas dan berwawasan luas. Dari cerita yang ia sampaikan kepadaku, dapat kusimpulkan dia bukanlah perempuan manja. Dia benar-benar seorang perempuan yang menarik.

“Sudah sampai tujuan, Nab.”
“Terimakasih, Dham.”

Pertemuan kami cukup sampai di sini.

***
Aku kembali melanjutkan rutinitasku sebagai supir taksi online. Kesibukan yang kujalani membuatku sempat melupakan pertemuanku dengan Nabila tempo hari. Sudah sekian penumpang yang aku antarkan ke tempat tujuan dengan selamat. Namun tak ada penumpang yang menarik perhatianku.

PING!
Pemberitahuan pesanan masuk dari aplikasi taksi online-ku. Aku buru-buru menerimanya. Rejeki tidak boleh ditolak, batinku.

“Silakan masuk!”
Seperti de javu.

Penumpangku bergegas masuk.
“Lho, Adham?”

Aku terkejut melihat penumpangku. Bukan main.
“Nab! Aku nggak sadar kalau kamu yang order,” ucapku sambil terbahak.

Nabila. Perempuan istimewa yang kutemui tempo hari kembali memesan taksi online ini. Aku beruntung bertemu dengannya lagi. Sepertinya semesta mendukungku kali ini.

Layaknya teman akrab yang sudah lama tak bertemu, aku dan Nabila mengobrol cukup banyak. Benar-benar perempuan istimewa. Kuakui, Nabila bukanlah tipe perempuan yang tertutup. Sehingga mudah saja baginya untuk akrab dengan orang baru, termasuk aku. Baru bertemu dua kali, tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya.

Sesampainya di tempat tujuannya, Nabila bergegas turun. Namun aku mencegahnya.

“Nab, boleh nggak aku ajak kamu untuk makan bareng nanti malam?”
Lancang. Lancang sekali. Baru dua kali bertemu, aku sudah berani mengajaknya makan malam bersama?

Gila! Aku sudah gila! Kalimat itu terlontar begitu saja. Benar-benar bodoh!

Tak perlu menunggu lama, Nabila segera memberikanku jawaban. Jawaban Nabila pun cukup mengejutkan. Dia menganggukkan kepalanya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Kemudian pergi meninggalkanku.

***
Aku duduk di ujung ruangan rumah makan ini. Aku sengaja memilih meja untuk dua orang supaya aku dapat leluasa mengobrol dengan Nabila, berdua saja. Pilihan yang tepat, batinku.

Beruntunglah aku bekerja sebagai supir taksi online. Karena pekerjaanku ini, aku bisa mendapatkan nomor ponsel Nabila. Cepat-cepat aku mengiriminya pesan. Memberitahunya di mana lokasi makan malam kami.

Sudah tiga puluh menit aku menanti kedatangan Nabila. Hingga akhirnya aku melihatnya memasuki rumah makan ini dan berjalan mendekatiku. Nabila menepati janjinya. Benar-benar perempuan istimewa. Kuharap kali ini semesta benar-benar mendukungku.

“Halo, Dham. Maaf terlambat. Tadi aku harus menunggu seseorang.”
“Oh, bukan masalah. Silakan duduk, Nab.”
“Terimakasih.”

Nabila pun segera duduk di hadapanku. Namun ternyata ada seorang laki-laki yang datang bersamanya.

“Ngomong-ngomong, kalau boleh tau, dia siapa?”
“Oh iya, perkenalkan. Ini Irfan, suamiku.”


Alhamdulillah, hasil dari nulis kilat selama 7 jam saja

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ►  2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ▼  2018 (10)
    • ►  Juli 2018 (3)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  April 2018 (1)
    • ▼  Februari 2018 (1)
      • Paras Membuai
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes