Halo! Akhirnya aku menulis kembali, setelah sekian lama menghilang. Nggak sih, sebetulnya ini pelarian aja, karena aku merasa tanggungan di semester 7 lumayan juga. Jadi ini saatnya melarikan diri sejenak dari kenyataan.
Beberapa minggu lalu, aku iseng buka akun Instagram-ku. Biasa lah kalau lagi puyeng, larinya ke media sosial juga. Kebetulan waktu aku buka akun Instagram, ada yang posting foto dengan caption ucapan 'selamat ulang tahun' untuk SD Percobaan 3 Pakem, yang mana itu adalah SDku jaman dulu. Gara-gara liat postingan itu, aku jadi flashback ke masa-masa diriku masih kecil.
SDku sebetulnya terletak di pinggir jalan raya, lebih tepatnya di pinggir Jalan Kaliurang, Jogja. Tapi walaupun begitu, SDku terhitung cukup pelosok dibandingkan SD favorit lain yang kebanyakan lokasinya di kota. Karena lokasinya nggak di kota, jadi masih ada perkampungan yang di kanan kiri-nya sawah-sawah gitu. Lingkungannya masih sangat aman buat jalan-jalan anak SD deh pokoknya.
Kebetulan ada satu guru olahraga-ku yang sering ngajak siswanya olahraga keliling ngelewatin pedesaan dan persawahan itu. Ya kalau jalan-jalan santai doang sih aku seneng-seneng aja. Namanya juga jalan-jalan, siapa yang nggak seneng? Tapi nggak kalah sering juga guruku ini ambil penilaian untuk dimasukin rapor dengan mengajak siswanya lari muterin kampung.
Jujur, olahraga tuh pelajaran yang paling sulit buat aku. Menyadari aja sih, dulu waktu SD badanku bongsor banget, tinggi gede gitu. Rasa-rasanya agak berat kalau disuruh lari, mengingat temen-temenku badannya kecil-kecil seukuran anak SD pada umumnya gitu. Jadilah penilaian lari adalah suatu momok buatku.
Saat pengambilan nilai lari di pelajaran olahraga itu, guru standby di satu titik dengan membawa stopwatch, dimana titik itu akan jadi titik berangkat dan pulang para siswanya. Aku yang dari awal udah minder duluan, ya lari seadanya dan sebisanya aja. Kalau capek ya jalan, kalau kuat ya lari. Tapi emang setelah dipikir-pikir, lebih banyak jalannya ketimbang larinya.
Setelah sekian lama berlari (atau berjalan?), akhirnya aku sampai di titik akhir dan berjumpa dengan guru serta teman-temanku semua. Ya iyalah, semua temenku udah pada duduk-duduk santai nungguin, karena aku selesai nomor dua paling akhir. Betapa malunya diriku, mengingat dulu aku punya crush juga hehehehe. Malu dong kalau larinya paling akhir :(
Kejadian penilaian lari ini pokoknya bikin aku sedih banget deh. Rasanya malu banget kalau aku nggak bisa lari. Padahal ya sebetulnya aku bukan nggak bisa lari, cuma larinya pelan-pelan aja hehe. Sedihnya anak SD paling gitu aja sih, tapi udah berasa hidupnya yang paling menyedihkan.
Karena aku nggak mau di peringkat paling akhir lagi untuk penilaian lari ini, aku usaha mati-matian latihan lari di rumah. Kebetulan tetanggaku ada yang larinya kenceng banget, jadilah aku minta dia ajarin aku buat lari. Setiap sore aku balapan lari sama dia. Ujung-ujungnya juga nggak pernah menang sih setiap balapan lari sama dia. Tapi justru karena aku nggak pernah menang, aku juga jadi nggak pernah merasa puas.
Hingga pada akhirnya, di semester berikutnya guru olahraga-ku mengadakan penilaian lari lagi untuk dimasukkan ke rapor. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau aku bisa lari lebih cepat dari yang kemarin, walaupun sebetulnya masih agak minder juga melihat temen-temenku yang terlihat lebih percaya diri dengan kemampuannya.
Ketika peluit ditiup guru olahraga-ku, seluruh siswa lari dari titik berangkat. Temen-temen udah pada ngebut nggak karuan. Aku sih lari santai aja karena kebetulan selama aku latihan lari sama tetanggaku, Ibu pernah berpesan kalau penilaian lari ini nggak perlu cepet-cepet di awal, yang penting stabil lari terus dari awal sampai akhir. Ya aku sih sebagai anak yang berbakti dan penurut (masak iya?), aku mengikuti saran Ibu dong.
Aku lari pelan-pelan di awal. Pokoknya lari terus sampe akhirnya aku mendahului temen-temenku yang tadinya ngebut. Hingga pada akhirnya aku sampai di titik pulang. Coba tebak kira-kira aku dapet peringkat berapa sekarang?
Yup, akhirnya aku dapet peringkat 11 untuk penilaian lari ini. Sungguh suatu pencapaian yang sangat membuatku bangga saat itu, mengingat aku nggak bisa lari cepet dan lama. Pokoknya aku bangga banget banget bangettt. Walupun aku nggak jadi peringkat 1, tapi setidaknya aku bisa buktiin ke diriku sendiri kalau aku bisa ber-progress.
Setelah flashback kejadian di SD, ternyata pengalaman berharga ini bisa juga aku gunakan untuk berkaca dengan keadaan sekarang yang lagi menjalani semester 7 perkuliahan. Jujur kadang aku suka membandingkan diriku sendiri dengan orang lain yang mungkin terlihat lebih hebat. Aku yakin beberapa dari kalian pernah ada di fase ini, betul kan? Padahal sebenarnya yang seharusnya aku perhatiin adalah progress-ku sendiri untuk mencapai tujuan hidup, bukannya membandingkan pencapaian orang lain yang tentu aja tujuan hidupnya beda sama tujuan hidupku.
Jadi mari sekarang lebih fokus dengan progress masing-masing aja. It's ok kok kalau mau menengok pencapaian orang lain. Tapi jadikan itu motivasi diri, jangan jadikan itu sesuatu yang justru membuat down diri sendiri dan berujung membanding-bandingkan. Yuk semangat!!

