lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Halo! Akhirnya aku menulis kembali, setelah sekian lama menghilang. Nggak sih, sebetulnya ini pelarian aja, karena aku merasa tanggungan di semester 7 lumayan juga. Jadi ini saatnya melarikan diri sejenak dari kenyataan.


Beberapa minggu lalu, aku iseng buka akun Instagram-ku. Biasa lah kalau lagi puyeng, larinya ke media sosial juga. Kebetulan waktu aku buka akun Instagram, ada yang posting foto dengan caption ucapan 'selamat ulang tahun' untuk SD Percobaan 3 Pakem, yang mana itu adalah SDku jaman dulu. Gara-gara liat postingan itu, aku jadi flashback ke masa-masa diriku masih kecil.

SDku sebetulnya terletak di pinggir jalan raya, lebih tepatnya di pinggir Jalan Kaliurang, Jogja. Tapi walaupun begitu, SDku terhitung cukup pelosok dibandingkan SD favorit lain yang kebanyakan lokasinya di kota. Karena lokasinya nggak di kota, jadi masih ada perkampungan yang di kanan kiri-nya sawah-sawah gitu. Lingkungannya masih sangat aman buat jalan-jalan anak SD deh pokoknya.

Kebetulan ada satu guru olahraga-ku yang sering ngajak siswanya olahraga keliling ngelewatin pedesaan dan persawahan itu. Ya kalau jalan-jalan santai doang sih aku seneng-seneng aja. Namanya juga jalan-jalan, siapa yang nggak seneng? Tapi nggak kalah sering juga guruku ini ambil penilaian untuk dimasukin rapor dengan mengajak siswanya lari muterin kampung.

Jujur, olahraga tuh pelajaran yang paling sulit buat aku. Menyadari aja sih, dulu waktu SD badanku bongsor banget, tinggi gede gitu. Rasa-rasanya agak berat kalau disuruh lari, mengingat temen-temenku badannya kecil-kecil seukuran anak SD pada umumnya gitu. Jadilah penilaian lari adalah suatu momok buatku.

 
(pict source click here!)

Saat pengambilan nilai lari di pelajaran olahraga itu, guru standby di satu titik dengan membawa stopwatch, dimana titik itu akan jadi titik berangkat dan pulang para siswanya. Aku yang dari awal udah minder duluan, ya lari seadanya dan sebisanya aja. Kalau capek ya jalan, kalau kuat ya lari. Tapi emang setelah dipikir-pikir, lebih banyak jalannya ketimbang larinya.

Setelah sekian lama berlari (atau berjalan?), akhirnya aku sampai di titik akhir dan berjumpa dengan guru serta teman-temanku semua. Ya iyalah, semua temenku udah pada duduk-duduk santai nungguin, karena aku selesai nomor dua paling akhir. Betapa malunya diriku, mengingat dulu aku punya crush juga hehehehe. Malu dong kalau larinya paling akhir :(

Kejadian penilaian lari ini pokoknya bikin aku sedih banget deh. Rasanya malu banget kalau aku nggak bisa lari. Padahal ya sebetulnya aku bukan nggak bisa lari, cuma larinya pelan-pelan aja hehe. Sedihnya anak SD paling gitu aja sih, tapi udah berasa hidupnya yang paling menyedihkan.

Karena aku nggak mau di peringkat paling akhir lagi untuk penilaian lari ini, aku usaha mati-matian latihan lari di rumah. Kebetulan tetanggaku ada yang larinya kenceng banget, jadilah aku minta dia ajarin aku buat lari. Setiap sore aku balapan lari sama dia. Ujung-ujungnya juga nggak pernah menang sih setiap balapan lari sama dia. Tapi justru karena aku nggak pernah menang, aku juga jadi nggak pernah merasa puas.

Hingga pada akhirnya, di semester berikutnya guru olahraga-ku mengadakan penilaian lari lagi untuk dimasukkan ke rapor. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau aku bisa lari lebih cepat dari yang kemarin, walaupun sebetulnya masih agak minder juga melihat temen-temenku yang terlihat lebih percaya diri dengan kemampuannya.

Ketika peluit ditiup guru olahraga-ku, seluruh siswa lari dari titik berangkat. Temen-temen udah pada ngebut nggak karuan. Aku sih lari santai aja karena kebetulan selama aku latihan lari sama tetanggaku, Ibu pernah berpesan kalau penilaian lari ini nggak perlu cepet-cepet di awal, yang penting stabil lari terus dari awal sampai akhir. Ya aku sih sebagai anak yang berbakti dan penurut (masak iya?), aku mengikuti saran Ibu dong.

Aku lari pelan-pelan di awal. Pokoknya lari terus sampe akhirnya aku mendahului temen-temenku yang tadinya ngebut. Hingga pada akhirnya aku sampai di titik pulang. Coba tebak kira-kira aku dapet peringkat berapa sekarang?


Yup, akhirnya aku dapet peringkat 11 untuk penilaian lari ini. Sungguh suatu pencapaian yang sangat membuatku bangga saat itu, mengingat aku nggak bisa lari cepet dan lama. Pokoknya aku bangga banget banget bangettt. Walupun aku nggak jadi peringkat 1, tapi setidaknya aku bisa buktiin ke diriku sendiri kalau aku bisa ber-progress.

 

Setelah flashback kejadian di SD, ternyata pengalaman berharga ini bisa juga aku gunakan untuk berkaca dengan keadaan sekarang yang lagi menjalani semester 7 perkuliahan. Jujur kadang aku suka membandingkan diriku sendiri dengan orang lain yang mungkin terlihat lebih hebat. Aku yakin beberapa dari kalian pernah ada di fase ini, betul kan? Padahal sebenarnya yang seharusnya aku perhatiin adalah progress-ku sendiri untuk mencapai tujuan hidup, bukannya membandingkan pencapaian orang lain yang tentu aja tujuan hidupnya beda sama tujuan hidupku.

Jadi mari sekarang lebih fokus dengan progress masing-masing aja. It's ok kok kalau mau menengok pencapaian orang lain. Tapi jadikan itu motivasi diri, jangan jadikan itu sesuatu yang justru membuat down diri sendiri dan berujung membanding-bandingkan. Yuk semangat!!

Seperti yang kita semua ketahui, tahun 2020 ini dunia digemparkan dengan adanya pandemi Covid-19 yang sangat berbahaya. Tentunya aku sebagai mahasiswa diharuskan untuk belajar di rumah, nggak pergi lagi ke kampus huhu kenyataan yang begitu pahit. Selama adanya pandemi ini, kebanyakan orang harus work from home (WFH). Jujur aja semenjak diharuskan WFH, aku pribadi jadi kebingungan membagi waktu kerja dan waktu istirahatku. Kadang-kadang aku bisa seharian full kerja atau malah seharian full nggak ngapa-ngapain. Nah, kalau udah seharian nggak ngapa-ngapain, kadang aku jadi suka mikir hal-hal negatif nih. Hayooo siapa yang begitu juga? Hihihihi.

Baru beberapa hari ini saat karantina di rumah, aku suka kepikiran, "Kenapa ya aku begini? Kenapa aku nggak begitu aja?". Dan kebetulan banget, semalem waktu aku lagi buka Twitter, ada cuitan dari akun Satu Persen yang bikin aku mikir cukup keras. Kira-kira begini cuitannya:

Sumber: Twitter @satupersen_id
 

Sedikit sharing aja sama temen-temen. Semalem waktu aku baca tweet itu, aku bener-bener mikir untuk waktu yang cukup lama. Ya nggak sampai satu jam sih, paling sekitar 3-5 menit sendiri untuk mikir jawabannya. Tapi menurutku waktu 3-5 menit itu terbilang cukup lama sih, karena kalau ditanyain "hal apa yang paling nggak aku suka dari diriku sendiri" pasti dalam hitungan detik aja aku udah bisa menjawab.

Setelah kejadian semalem, aku jadi kepikiran kalau ternyata selama ini aku terlalu fokus dengan hal-hal yang tidak aku sukai dari diriku sendiri. Padahal sebetulnya masih ada banyak hal yang bisa aku sukai dan bisa aku apresiasi. Sebetulnya aku pribadi nggak akan bilang kalau memikirkan 'hal-hal buruk dari diri kita sendiri' itu hal yang jelek, karena justru dengan memikirkan itu kita bisa berkaca dan improve diri sendiri supaya bisa jadi pribadi yang lebih baik. Tapi menurutku akan menjadi nggak baik juga kalau memikirkan hal-hal buruk dari diri kita sendiri justru malah bikin kalian down. Jadi itulah pentingnya self-love supaya hal-hal baik dari diri kita juga diapresiasi dan diacungi jempol. Kan capek juga ya kalau mikirin hal-hal buruk dari diri kita secara terus menerus?

Nah, melanjutkan ceritaku tadi.. Karena aku terlalu sering fokus dengan hal-hal yang tidak aku sukai dari diriku sendiri, aku jadi sempat kepikiran kalau aku sebel/benci sama diriku sendiri. Bahkan aku sampai mencoba untuk searching di Google karena aku penasaran aja apa yang salah dengan diriku. Hingga akhirnya aku menemukan suatu situs web (click link here) yang mejelaskan tentang hal itu. Di situs web itu ada postingan berjudul "Your self-hatred might actually be misdirected" dan ada juga video yang sedikit mencerahkan pikiranku. Videonya bisa kalian lihat di bawah ini.

Dari video itu dapat aku tarik kesimpulan bahwa sebetulnya kita tu nggak benci sama diri kita sendiri, tapi kita cuma nggak suka sama 'beberapa hal' yang ada pada diri kita. Sebagai gambaran aja, semisal ada seorang perempuan yang bilang "Ah, aku nggak suka keluar rumah. Di luar hujan." padahal sebetulnya dia suka keluar rumah, tapi yang nggak dia sukai adalah kondisi di luar yang sedang hujan. Jadi sebetulnya kita tu nggak benci sama diri kita sendiri, hanya saja ada beberapa hal dari diri kita sendiri yang tidak kita sukai.. Tapi jangan lupa, kita juga harus sering-sering apresiasi hal-hal baik dari diri kita, supaya nggak terlalu dibikin down dengan pikiran-pikiran buruk tentang diri sendiri.

Sekian sesi sharing kali ini. Cukup random sih karena jarang-jarang aku nulis begini. Semoga nggak ada pihak yang tersinggung yaa. Kalau kalian ada tanggapan bisa ketik di kolom komen. Thank you!

Sekian ribu kendaraan berlalu lalang di jalanan kota yang padat ini. Orang-orang berjuang melawan kantuk dan lelah untuk segera pulang ke rumah. Beberapa terlihat sumringah karena tidak sabar ingin bertemu istri dan anak-anaknya. Ada juga yang raut mukanya terlihat lesu dan muram seperti benang kusut. Begitu pula Orchid, duduk merenung di jok belakang mobil sembari memperhatikan kemacetan di kota ini.

'Aku lanjut kuliah di Jerman', Kalimat pendek yang dilontarkan pria itu cukup membuat perasaan Orchid campur aduk. Baru saja sempat bertemu setelah sekian lama disibukkan dengan kegiatan masing-masing, dengan santainya pria itu mengucapkan sesuatu yang sangat mengagetkan Orchid. Sudah genap dua hari ia tak bisa tidur tenang gara-gara ucapan singkat itu. Orchid merasakan kebimbangan yang luar biasa. Sebetulnya Orchid merasa bangga, namun dalam hati kecilnya dia juga merasakan ketakutan.

"Kak, kita sudah sampai lokasi," ucapan sopir taksi membuyarkan lamunan Orchid.

"Oh.. Oh.. Iya ini ongkosnya Pak. Makasih."

Orchid bergegas turun dari taksi dan berjalan menyusuri lorong panjang ini. Di sini lah terakhir kalinya ia dapat bertemu dengan pria itu sebelum berangkat ke Jerman. Kalimat pria itu kembali terngiang di telinga Orchid, membuatnya tidak fokus dengan jalanan di depannya. Pikirannya buyar, tatapannya kosong, jalannya pun sempoyongan seperti orang habis mabuk. Begitu hebatnya pria itu mengejutkan Orchid hingga dirinya kebingungan tak tahu arah.

"Orchid!" seseorang di ujung lorong memanggil namanya. Berdiri tegak menggunakan kemeja biru polos dan celana hitam panjang. Tangan kirinya memegang koper, sedangkan tangan kanannya melambai-lambai ke arah Orchid. Senyumnya sangat lebar dan tampak sumringah hingga menimbulkan kerutan wajah di pinggir matanya. Dialah pria itu. Pria yang membuat Orchid terombang-ambing tak karuan.

Orchid mempercepat langkahnya untuk menghampiri pria itu. Dia berusaha tersenyum kecil walau hatinya tersayat mengingat beberapa jam lagi pria itu akan pergi sangat jauh meninggalkan dirinya.

"Hai! Maaf ya agak lama, tadi jalannya macet banget."

"Nggak papa, Chid. Duduk dulu sini sebelum aku boarding. Kayaknya kamu pucat banget. Kecapekan?"

Orchid mengatur napasnya dan segera memposisikan diri untuk duduk di sebelah pria tersebut. Ia berpura-pura sibuk merapikan baju dan tas yang dibawa untuk menghindari pertanyaan pria itu. Sebisa mungkin Orchid berusaha menutupi kenyataan bahwa wajahnya yang pucat disebabkan karena dia tak dapat tidur selama dua hari.

"Are you ok, Chid?"

Orchid merekahkan senyum di bibirnya, sembari berusaha menyembunyikan ketakutan dan kekhawatiran yang ia simpan selama beberapa minggu ini.

"Aku bakalan cukup lama di Jerman, mungkin sekitar empat sampai lima tahun."

Orchid bungkam seribu bahasa. Hanya anggukan lemah yang dapat ia tunjukkan kepada pria itu.

"Kamu mau nunggu aku kan, Chid?"

Jemari kecil Orchid bergetar, begitu pula bibir mungilnya. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Orchid menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan.

"Nunggu buat apa? Aku sendiri nggak yakin kamu bisa tetap bertahan selama itu di tempat yang jauh dan pastinya bakalan ketemu kenalan-kenalan baru yang bikin kamu nyaman," Orchid akhirnya membuka suara. Sekuat tenaga ia menahan bibirnya supaya tidak bergetar.

"Kamu nggak percaya sama aku, Chid?"

Butir-butir keringat dingin mulai menetes di dahi Orchid. Bayangan ketakutan kembali menyergap dirinya. Orchid takut, lebih tepatnya Orchid tidak siap menghadapi kenyataan jika pada akhirnya mereka berdua berpisah. Terlalu banyak kenangan yang telah mereka ukir, Orchid sangat takut tidak bisa melupakannya. Hatinya sungguh remuk membayangkan betapa miris dirinya di masa depan jika pria itu tiba-tiba mencintai perempuan lain di negeri yang jauh di sana. Orchid tidak sanggup membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu.

"Kamu tahu nggak, Chid.. Sebenarnya tingkat tertinggi rasa cinta dalam suatu hubungan itu berada pada kepercayaan kedua belah pihak. Sama halnya kita. Kalau kita saling cinta seharusnya kita bisa saling percaya."

Tak kuasa membendung air mata, Orchid pun meluapkan tangisannya. Ucapan pria itu seakan-akan menampar keras dirinya. Tubuhnya bergetar hebat mendengar kalimat itu. Perasaannya berkecamuk tak karuan. Selama ini begitu banyak hal buruk yang ia pikirkan. Begitu banyak skenario-skenario mengerikan yang dia bayangkan. Sehingga dia sendiri lupa bahwa kepercayaan adalah suatu kunci penting yang selama ini dia abaikan.

Orchid menundukkan kepala sembari mengusap air matanya. Tangannya yang masih bergetar tiba-tiba merasakan kehangatan dari sentuhan pria itu. Orchid paham betul, pria itu tak pernah main-main dengannya selama ini. Usahanya begitu besar, perjuangannya begitu hebat. Suatu kesalahan jika Orchid masih berpikir bahwa pria itu bisa saja berkhianat. Akhirnya Orchid memberanikan diri menatap wajah pria itu. Dia menganggukkan kepala dengan mantab sembari berkata, "Aku akan tunggu kamu."
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ►  2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ▼  2020 (3)
    • ▼  Oktober 2020 (1)
      • Flashback Berujung Pelajaran Hidup
    • ►  September 2020 (1)
      • You Don't Hate Yourself
    • ►  Februari 2020 (1)
      • Vertrauen
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  Juli 2018 (3)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes