Vertrauen
Sekian ribu kendaraan berlalu lalang di jalanan kota yang padat ini.
Orang-orang berjuang melawan kantuk dan lelah untuk segera pulang ke
rumah. Beberapa terlihat sumringah karena tidak sabar ingin bertemu
istri dan anak-anaknya. Ada juga yang raut mukanya terlihat lesu dan
muram seperti benang kusut. Begitu pula Orchid, duduk merenung di jok
belakang mobil sembari memperhatikan kemacetan di kota ini.
'Aku lanjut kuliah di Jerman',
Kalimat pendek yang dilontarkan pria itu cukup membuat perasaan Orchid
campur aduk. Baru saja sempat bertemu setelah sekian lama disibukkan
dengan kegiatan masing-masing, dengan santainya pria itu mengucapkan
sesuatu yang sangat mengagetkan Orchid. Sudah genap dua hari ia tak bisa
tidur tenang gara-gara ucapan singkat itu. Orchid merasakan kebimbangan
yang luar biasa. Sebetulnya Orchid merasa bangga, namun dalam hati
kecilnya dia juga merasakan ketakutan.
"Kak, kita sudah sampai lokasi," ucapan sopir taksi membuyarkan lamunan Orchid.
"Oh.. Oh.. Iya ini ongkosnya Pak. Makasih."
Orchid
bergegas turun dari taksi dan berjalan menyusuri lorong panjang ini. Di
sini lah terakhir kalinya ia dapat bertemu dengan pria itu sebelum
berangkat ke Jerman. Kalimat pria itu kembali terngiang di telinga
Orchid, membuatnya tidak fokus dengan jalanan di depannya. Pikirannya
buyar, tatapannya kosong, jalannya pun sempoyongan seperti orang habis
mabuk. Begitu hebatnya pria itu mengejutkan Orchid hingga dirinya
kebingungan tak tahu arah.
"Orchid!" seseorang di ujung
lorong memanggil namanya. Berdiri tegak menggunakan kemeja biru polos
dan celana hitam panjang. Tangan kirinya memegang koper, sedangkan
tangan kanannya melambai-lambai ke arah Orchid. Senyumnya sangat lebar
dan tampak sumringah hingga menimbulkan kerutan wajah di pinggir
matanya. Dialah pria itu. Pria yang membuat Orchid terombang-ambing tak
karuan.
Orchid mempercepat langkahnya untuk menghampiri
pria itu. Dia berusaha tersenyum kecil walau hatinya tersayat mengingat
beberapa jam lagi pria itu akan pergi sangat jauh meninggalkan dirinya.
"Hai! Maaf ya agak lama, tadi jalannya macet banget."
"Nggak papa, Chid. Duduk dulu sini sebelum aku boarding. Kayaknya kamu pucat banget. Kecapekan?"
Orchid
mengatur napasnya dan segera memposisikan diri untuk duduk di sebelah
pria tersebut. Ia berpura-pura sibuk merapikan baju dan tas yang dibawa
untuk menghindari pertanyaan pria itu. Sebisa mungkin Orchid berusaha
menutupi kenyataan bahwa wajahnya yang pucat disebabkan karena dia tak
dapat tidur selama dua hari.
"Are you ok, Chid?"
Orchid
merekahkan senyum di bibirnya, sembari berusaha menyembunyikan
ketakutan dan kekhawatiran yang ia simpan selama beberapa minggu ini.
"Aku bakalan cukup lama di Jerman, mungkin sekitar empat sampai lima tahun."
Orchid bungkam seribu bahasa. Hanya anggukan lemah yang dapat ia tunjukkan kepada pria itu.
"Kamu mau nunggu aku kan, Chid?"
Jemari
kecil Orchid bergetar, begitu pula bibir mungilnya. Sekuat tenaga ia
menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Orchid menarik napas
sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan.
"Nunggu
buat apa? Aku sendiri nggak yakin kamu bisa tetap bertahan selama itu
di tempat yang jauh dan pastinya bakalan ketemu kenalan-kenalan baru
yang bikin kamu nyaman," Orchid akhirnya membuka suara. Sekuat tenaga ia
menahan bibirnya supaya tidak bergetar.
"Kamu nggak percaya sama aku, Chid?"
Butir-butir
keringat dingin mulai menetes di dahi Orchid. Bayangan ketakutan
kembali menyergap dirinya. Orchid takut, lebih tepatnya Orchid tidak
siap menghadapi kenyataan jika pada akhirnya mereka berdua berpisah.
Terlalu banyak kenangan yang telah mereka ukir, Orchid sangat takut
tidak bisa melupakannya. Hatinya sungguh remuk membayangkan betapa miris
dirinya di masa depan jika pria itu tiba-tiba mencintai perempuan lain
di negeri yang jauh di sana. Orchid tidak sanggup membayangkan
kemungkinan-kemungkinan buruk itu.
"Kamu tahu nggak,
Chid.. Sebenarnya tingkat tertinggi rasa cinta dalam suatu hubungan itu
berada pada kepercayaan kedua belah pihak. Sama halnya kita. Kalau kita
saling cinta seharusnya kita bisa saling percaya."
Tak
kuasa membendung air mata, Orchid pun meluapkan tangisannya. Ucapan pria
itu seakan-akan menampar keras dirinya. Tubuhnya bergetar hebat
mendengar kalimat itu. Perasaannya berkecamuk tak karuan. Selama ini
begitu banyak hal buruk yang ia pikirkan. Begitu banyak
skenario-skenario mengerikan yang dia bayangkan. Sehingga dia sendiri
lupa bahwa kepercayaan adalah suatu kunci penting yang selama ini dia
abaikan.
Orchid menundukkan kepala sembari mengusap air
matanya. Tangannya yang masih bergetar tiba-tiba merasakan kehangatan
dari sentuhan pria itu. Orchid paham betul, pria itu tak pernah
main-main dengannya selama ini. Usahanya begitu besar, perjuangannya
begitu hebat. Suatu kesalahan jika Orchid masih berpikir bahwa pria itu
bisa saja berkhianat. Akhirnya Orchid memberanikan diri menatap wajah
pria itu. Dia menganggukkan kepala dengan mantab sembari berkata, "Aku
akan tunggu kamu."

0 comments