lluvia

  • Home
  • About Me
  • Social
    • Instagram 1
    • Instagram 2
    • Linkedin
  • Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Pict source click here!

Tak diragukan lagi, langit sungguh sangat lihai mengukir semburat senja di ufuk cakrawala. Terutama senja di tepi pantai ini. Memandanginya walau hanya sekejap cukup memberikan efek candu yang luar biasa. Bagaikan morfin yang singgah di dalam aliran darahku. Herannya pantai ini sangat sepi pengunjung, mungkin banyak yang belum tahu kalau senja tercantik hanya ada di sini. Walau begitu, biasanya aku justru menikmati kesunyiannya.

"Jadi, how's life, Ren?"

Kalimat yang meluncur dari bibir mungilnya sungguh memecah keheningan. Ditambah debar jantungku yang semakin kencang membuat suasana di pantai ini tak lagi seindah biasanya. Sudah sekian lama jantungku tidak bekerja se-ekstra ini. Kalau saja aku bisa melihat bagian dalam organ tubuhku, mungkin sekarang lemak-lemak jahat di sekitar jantungku sudah luruh akibat begitu kencangnya jantungku berdetak bersamaan dengan luruhnya akal sehatku.

Tanpa harus melontarkan pertanyaan basa-basi itu pun aku tahu bahwa dia sebenarnya sudah paham betul dengan kondisiku saat ini. Siapa pula yang tak bisa menerka-nerka kondisi orang yang datang ke pantai dengan baju dan rambut berantakan, lengan baju dilipat asal-asalan, mata bengkak, dan wajah pucat bagaikan anemia? Aku rasa, anak kecil pun mengerti bahwa kondisiku tidak sedang baik-baik saja.

"Not bad, I think."

"Jangan sering begadang, Ren. Kantung matamu udah hampir menyamai kantung ajaib Doraemon, tuh."

Sial! Dia masih bisa mengajakku bercanda, padahal hatiku sudah menjerit-jerit tak karuan. Aku kembali memusatkan pandanganku ke ombak yang bergulung-gulung di depan sana. Mencoba mencari ketenangan supaya aku mendapatkan kembali akal sehatku yang mungkin sudah hilang tertimbun pasir di pantai ini.

Aku memang rutin mengunjungi pantai ini setiap dua kali dalam seminggu. Memandang matahari terbenam, sembari melepas segala penat yang menjerat diriku. Pertemuanku dengannya saat ini betul-betul di luar dugaan. Bahkan aku tak menyangka akan bersua kembali dengannya. Wajar saja kalau aku benar-benar kaget saat melihat sosoknya berdiri di depanku. Setelah sekian lama kami tak bertemu, senyumnya tak berubah. Masih sama seperti dulu, sama-sama mampu menyeret tubuhku supaya berada dalam pelukannya.

Kalau saja boleh kukatakan, sebenarnya dia merupakan perempuan yang cukup menarik. Berperawakan tinggi dan langsing bak model brand ternama Victoria's Secret. Saat dia berbicara, bukan hanya bibirnya yang mampu berucap, bahkan matanya pun ikut berbicara. Dalam sekali tatap, aku yakin lelaki mana pun akan jatuh tersungkur di hadapannya, memohon untuk menjadi kekasihnya. Bodohnya, aku termasuk salah satu lelaki yang juga jatuh tersungkur di hadapannya.

Rupanya dia berusaha untuk mencairkan suasana di antara kami berdua dengan melontarkan candaan yang sama sekali tak lucu. Maka dengan enggan kuulaskan senyum tipis untuk membalas perkataannya barusan. Lalu kembali sibuk menenangkan hatiku yang dari tadi menjerit-jerit di dalam dada.

"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini. Aku juga nggak menyangka bakalan ketemu kamu. Takdir Tuhan, mungkin?"

Takdir Tuhan? Aku tersenyum samar sembari melempar kerikil ke arah deburan ombak.

"Sudah delapan tahun ini aku tinggal di Jerman, Ren. Maaf aku nggak pernah sekali pun menghubungi kamu. Bahkan kurasa kamu sudah tahu alasannya."

Aku mengangguk lemah sembari tetap mengunci mulut dengan rapat.

"Mungkin berat menjalani hari-hari menyedihkan di sini. Aku pun juga sadar betul kalau aku pergi dengan sangat mendadak. Membiarkanmu berusaha sendirian keluar dari cengkeraman begitu banyak lara."

"Sejauh ini aku baik-baik aja, nggak usah terlalu khawatir. Kamu sendiri gimana di Jerman?"

"Aku juga baik-baik aja."

Aku sangat yakin, dia pergi ke Jerman memang semata-mata untuk menghindariku. Aku pun juga yakin betul, dia tidak baik-baik saja di sana. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja saat dia pergi sembari membawa begitu banyak lara.

"Banyak sekali hal yang kulakukan di Jerman, tapi entah kenapa aku tetap nggak bisa lupa, Ren."

"Lupa? Mengenai apa?"

"Memangnya apa lagi kalau bukan tentang kita."

Sudah sekian tahun lamanya aku terjerembab dalam perasaanku sendiri dan tak dapat bangkit kembali. Apakah begini caranya cinta bekerja? Bibir tersenyum lebar, namun hati tersayat-sayat. Anehnya, aku dengan ikhlas menikmati perasaan itu. Apa betul ini namanya cinta? Atau aku hanyalah seorang bodoh yang bertahun-tahun menikmati lara?

Tak dapat kupungkiri, Fiya, perempuan yang sedang duduk di sampingku, mampu membuat perasaanku membumbung tinggi lalu menghancurleburkannya pada saat bersamaan. Aku sendiri tak tahu, aku memang bodoh atau karismanya sungguh mampu membuatku berpikir dialah perempuan satu-satunya yang mampu singgah di hatiku. Sampai saat ini pun perasaan itu tak berubah. Aku masih mengaguminya, jantungku masih berdegup kencang saat berdua dengannya, sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya.

"Asal kamu tahu, Fi. Perasaanku masih sama, nggak ada yang berubah."

"Begitu pun aku, Ren. Tapi sayangnya, keluargaku dan keluargamu tidak dapat menerima hal ini."

Kepalaku tertunduk. Kupejamkan mata sembari merasakan sekujur tubuhku yang mulai memanas, menahan gejolak emosi yang meluap. Tiba-tiba saja kurasakan telapak tanganku menghangat, rupanya Fiya menggenggamnya. Energi positif yang ia miliki cukup tersalurkan dari sini. Luapan emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun pun kembali mereda.

Aku dan Fiya mengarungi pikiran masing-masing. Mulut terkunci rapat, namun mata sibuk memandang deburan ombak dengan latar senja di belakangnya. Mencoba mencari solusi yang mungkin saja terselubung di setiap buih-buih ombak. Begitu asyiknya aku menyelami pikiranku, tiba-tiba saja Fiya mengucapkan sesuatu.

"Ren, kurasa kamu harus sholat. Barusan aku dengar adzan Maghrib. Makasih buat pertemuan tak terduga ini. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Ini kartu namaku, hubungi aja kapan pun kamu mau. Aku pulang dulu, ada jadwal sembahyang di gereja. See you, Ren!"
Sangat disayangkan kalau menghabiskan dua bulan liburan cuma untuk guling-guling di kamar. Mungkin bapak dan ibuku juga berpikir demikian. Makanya bapak & ibuku ngajak aku main ke Malioboro untuk sekedar mengisi waktu liburan, sambil jalan-jalan kaki di Malioboro, lumayan kan olahraga.

Siapa yang nggak tahu Malioboro? Salah satu tempat wisata yang jadi icon-nya kota Yogyakarta. Kayaknya para wisatawan bakalan merasa kurang afdol ya kalau udah sampai di Yogyakarta tapi nggak mampir ke Malioboro. Jadi Malioboro ini semacam pusat perbelanjaan gitu. Sepanjang jalan penuh dengan penjual. Ada yang jualan kaos-kaos batik, pernak-pernik semacam kalung atau gantungan kunci, macem-macem deh pokoknya.

Sejujurnya rasanya agak aneh juga sih kalau aku, sebagai orang asli Yogyakarta, jalan-jalan di Malioboro. Aku sendiri sih yang ngerasa aneh, soalnya kayak berasa jadi 'turis' dalam beberapa jam  di kota kelahiran sendiri hehehe. Tapi it's ok lho ya kalau kalian orang asli Yogyakarta tapi pengen jalan-jalan di Malioboro, nggak masalah kok. Itu tadi cuma ungkapan perasaanku aja.

Jadi bapak tiba-tiba secara random ngajakin aku sama ibu untuk ke Malioboro pagi-pagi banget. Kalau ditanyain "Ngapain pagi-pagi ke Malioboro?", jawaban bapak adalah "Nyari sarapan". Oke, jadi kami nyari sarapan jauh-jauh sampe Malioboro, emang kami hobi wisata kuliner. Sekitar jam 7 pagi kami udah berangkat dari rumah. Sampai Malioboro mungkin sekitar jam 7.30 pagi, aku kurang tau pastinya karena sampai sana aku udah nggak ngecek jam. Ternyata di titik 0 udah ada senam pagi, Bung! Aku baru tau juga sih, karena ini emang pertama kalinya aku pagi-pagi ke Malioboro.



Karena tujuan awal tadi adalah nyari sarapan, maka sesampainya di Malioboro kami langsung cul nyari makan. Mungkin beberapa di antara kalian bertanya-tanya ya, kami nyari sarapan di mana nya? Iya, jadi di sepanjang pinggir-pinggir jalan Malioboro itu ada yang jual makanan. Menunya pun macem-macem, ada gudeg, pecel, soto, dan lain-lain, mungkin kalian bisa coba langsung kapan-kapan. Bapakku emang dari rumah udah berencana beli pecel, jadi yaudah langsung beli pecel aja. Sedangkan aku sama ibuku pengen yang anget-anget, jadi kami berdua beli soto ayam. For your information, harga soto ayamnya Rp10.000 per porsi.

Nampak menggiurkan ya? Aku aja ngiler pas upload foto ini heu :( 

Temen-temen pada penasaran nggak, kira-kira kalau udah pesen makanan begini, makannya di mana? Duduk di mana? Karena makanan ini dijual oleh pedagang di pinggir jalan banget, otomatis nggak ada tempat yang memadai untuk makan. Jadi kalau mau makan harus duduk di kursi-kursi yang ada di Malioboro itu lohh, kalian pada tahu kan? Untuk lebih jelasnya, bisa lihat foto di bawah ini. Atau kalau pedagangnya nyediain tikar, ya bisa banget makan sambil duduk di tikar.



Karena tujuan utama, yaitu nyari sarapan, sudah tercapai, akhirnya kami jalan-jalan ke Benteng Vredeburg. Sebenernya aku juga udah pernah masuk ke sana waktu Study Tour kelas 5 SD, tapi berhubung mau jalan-jalan aja ngabisin waktu jadi ya teteup masuk. Sekalian me-recall ingatan waktu kelas 5 SD.



Jadi beginilah penampakan luar Benteng Vredeburg. Itu si emak minta difotoin hehe. Waktu masuk ke Benteng Vredeburg, sempat deg-degan lihat loket tiket, takut harganya mahal. Tadinya aku kira tiket masuknya seharga Rp15.000-Rp20.000 per orang, dan rupa-rupanya aku tertipu. Ternyata tiket masuknya MURAH BANGET!! HANYA Rp3.000 PER ORANG!



Aku sama ibuku lanjut berkeliling Benteng Vredeburg, dan bapakku duduk-duduk aja di sana. Maklum ya ibu-ibu sukanya minta difotoin hehe. Aku malah jadi tukang foto deh di sana.





Jujur aja sebenernya aku nggak terlalu meng-explore Benteng Vredeburg. Jadi aku kasih tahu informasi yang aku tahu aja ya hehe. Di sana ada beberapa gedung terpisah yang dipakai untuk menaruh diorama-diorama. Ruangannya pun ber-AC dan bersih, jadi sangat nyaman. Menurutku ruangannya agak serem sih kalau kalian explore-nya cuma sendirian. Soalnya ruangannya bener-bener sepi dan berlorong-lorong, dan dioramanya pun isinya patung-patung kecil gitu. Dalam imajinasi terliarku, aku ngebayangin patungnya hidup sendiri kayak di film Toy Story hahaha. Mohon maaf, tingkat imajinasi saya terlalu tinggi.



Sepenglihatanku kemarin, gedung-gedung di sana dipakai untuk menaruh diorama-diorama sih, sisanya tanah lapang kayak foto di atas ini. Enak banget dipakai buat lari-larian dan glundung-glundung. Aku baru tahu juga nih, guys, ternyata di sana ada persewaan sepeda kayuh gitu. Sepedanya bentuknya unik-unik, macem-macem. Sayangnya aku lupa nanya harga sewanya berapa.


Oh iya, kalau di Benteng Vredeburg nggak usah takut tersesat ya, soalnya udah ada penunjuk jalan kayak gini di setiap sudutnya. Jadi tenang aja, jangan khawatir nggak tahu arah hehehe.

Ya udah, mungkin sekian dulu cerita jalan-jalannya. Kapan-kapan cerita lagi kalau punya bahan hehehe. See u!

Mumpung masih suasana lebaran nih, sebelum aku mulai cerita panjang lebar, aku mau ngucapin mohon maaf lahir batin buat teman-temanku, keluargaku, dan khususnya bagi para pembaca blogku yang senantiasa rela membaca tulisan yang cukup berantakan ini hehe. Semoga amal ibadah selama sebulan puasa kemarin diterima Allah SWT ya, kawan-kawan!

Mengingat bulan Juli ini aku masih libur kuliah, aku sama temen-temenku (Inas, Lintang, Risma, Lisa, Devita) berencana untuk main. Bahkan rencana main ini udah dibahas sejak bulan Juni. Sungguh persiapan liburan yang sangat matang hahaha.

Kira-kira aku sama temen-temen mau main kemana hayoo? Ada yang bisa menebak?

Awalnya kami berencana main ke Pantai Wediombo nih, sengaja nyari yang sepi (walaupun sebenernya Pantai Wediombo nggak sepi sepi amat juga sih). Tapi ternyata Pantai Wediombo sangatlah jauh, jadi akhirnya kami mlipir ke Pantai Siung. Tadinya aku sempet mikir Pantai Siung bakalan se-rame apa kalau kami dateng pas weekend. Untungnya Pantai Siung nggak se-rame bayanganku sih. Jadi aku sama temen-temen bisa main dengan leluasa, karena nggak harus berjubel dengan pengunjung yang lain.

Perjalanan menuju Pantai Siung ini (dihitung dari Fakultas Teknik UGM) kurang lebih menghabiskan waktu 1,5 jam. Kami berangkat naik mobil Lintang dan disupirin bapak supir langganan keluarga Lintang (Big thanks to Mama Blogger -Mama Lintang- yang ikhlas meminjamkan mobilnya untuk dipakai krucil-krucil ke pantai dan rela membayar jasa bapak supir. Sekali lagi, makasih ya, Mama Blogger). Selama perjalanan, kami rame banget ngebahas banyak hal sampe ketawa ngakak. Pokoknya ada aja yang diketawain.

Akhirnya setelah lelah tertawa di dalem mobil, kami pun sampai juga di Pantai Siung. Kira-kira ada yang tahu apa yang kita lakukan pertama kali setelah sampai di pantai?
Bukannya langsung mengagumi keindahan pantai, tapi kami justru langsung menyerbu bapak penjual bakso tusuk. Inas sudah kelaparan karena nggak sempat sarapan di rumah. Berhubung aku juga mau mau aja kalau diajak makan, jadi yaudah kami turun mobil langsung jajan bakso tusuk di pinggir pantai. Ternyata eh ternyata, bakso tusuknya enak HAHAHAHA. Bukan cuma itu, selesai makan bakso tusuk pun kami langsung menyerbu bapak penjual telur gulung. Emang dasar wanita-wanita doyan makan (terutama aku sih hehehe).

Nah setelah selesai beli telur gulung, kami langsung jalan menuju tebing yang ada di sisi pantai.  Perjalanan menuju puncak tebing cukup membuat ngos-ngosan. Namanya juga tebing, jadi emang butuh effort untuk sampai di puncaknya. Kami berhenti di spot yang menurutku sangat sangat sangat nyaman untuk dipake glundung-glundung. Kenapa aku bisa berpendapat gitu? Karena di spot tersebut ada lahan yang lumayan luas dan diapit dinding-dinding tebing. Dijamin nggak kepanasan kalau mau glundung-glundung di sini karena dinding tebingnya menghalangi sinar matahari (nb: sinar matahari kehalang dinding tebing sekitar jam 11an pagi pas aku ke sana ya, jadi kalau kalian dateng di lain waktu aku juga nggak tau bakalan kepanasan enggak).


Ini penampakan dinding tebing yang aku jelasin tadi. Karena tempatnya emang bagus, jadi kami langsung cul foto. For your information, di balik hasil foto ini terdapat perjuangan yang keras. Kebetulan di sana nggak ada pengunjung lain, jadi kami harus foto mandiri pake fitur timer dari kamera HP. Sayangnya di sana juga nggak ada tempat yang bisa digunakan untuk alas HPnya, jadi dengan susah payah kami harus menggunakan tripod alami dari batu.



Ya, jadi beginilah perjuanganku supaya tripod alami dari batu bisa digunakan semaksimal mungkin. Alhamdulillah hasil fotonya nggak jelek-jelek amat. Iya kan?! Bilang aja iya biar aku seneng!

Selesai foto-foto dengan penuh perjuangan ini, kami lanjut menyusuri tebing. Jadi di deket lokasi foto kami ini, ada tebing yang menghubungkan Pantai Siung dan Pantai Nglambor. Nah di tebing tersebut, udah dipasangin jembatan dari bambu gitu supaya lebih mudah dilewatin. Tapi jembatannya nampak nggak kokoh... Agak serem rasanya waktu ngelewatin jembatannya. Ohiya, for your information lagi nih, ternyata untuk masuk ke daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Ngalmbor ini harus bayar Rp15.000. Kami sempat tertipu :( Jadi sebelum memasuki daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Nglambor ini, emang ada tulisan kalau harus bayar Rp15.000 tapi nggak ada petugas yang jaga. Jadi kami santai aja masuk, dikiranya nggak bayar. Walaupun sebenernya aku udah ada feeling nanti di dalem bakalan tiba-tiba ditagih. Dan.........TETOT! Ternyata feeling-ku benar! Lagi di tengah jalan, kami didatengin mas-mas penjaga, dimintain Rp15.000 buat biaya masuk.


Berhubung udah terlanjur bayar Rp15.000, makanya kami lanjut jalan aja deh. Kan sia-sia kalau udah bayar tapi nggak dipuas-puasin HEHEHE. 



Yaudah sih, di tebing ini kami cuma foto-foto aja. Kalau ada spot bagus, langsung berhenti untuk foto-foto dulu. Karena kami berenam, jadi ya kalo ada spot bagus gitu fotonya gantian satu-satu, agak memakan waktu sih. Tapi nggak papa soalnya pemandangannya bikin mata segeeer.


Pas di tebing ini sinar matahari sungguh membakar kulit. Soalnya yaa emang nggak ada tempat berteduh dan kami ke sana mungkin udah sekitar jam 11 atau 12 siang jadi udah kepanasan gitu. Oh iya, jangan harap di sini kalian bisa dapet sinyal ya. Aku pake t*lkomsel aja nggak ada sinyal wkwk. Itulah sebabnya aku males buka HP, jadi nggak ngecek jam juga.


Kami jalan terusss pantang berhenti, hingga akhirnya kami sampai di Pantai Nglambor. Di pantai ini kami cuma duduk-duduk berteduh karena udah mulai kehabisan tenaga. Risma juga lagi kena apes, karena sandalnya jebol HAHAHAHA kayaknya sih gara-gara kesandung waktu di tebing.

Selama berteduh di Pantai Nglambor ini, kami belajar ice breaking ala cofass PPSMB Palapa. Kira-kira siapa yang ngajarin? Siapa lagi kalau bukan Devita, si cofass PPSMB. Jadi sambil mengisi waktu, kami tepuk-tepuk tangan gitu buat belajar ice breaking. Dan ternyata lumayan menyenangkan, soalnya ini pertama kalinya buat aku. Lumayan kan Devita bisa belajar menangani adik-adik mahasiswa baru yang kebosanan sambil ngehibur kami yang sedang kelelahan.

Karena jam udah menunjukkan pukul 1 siang, jadi kami pun menyudahi ice breaking ala PPSMB Palapa di Pantai Ngalmbor dan balik ke Pantai Siung.
Nggak afdol namanya kalau ke pantai tapi nggak mainan air, benar begitu teman-teman? Jadi karena dari tadi kami belum mainan air, akhirnya pas udah balik ke Pantai Siung kami mainan air bentar. Cuma membasuh kaki pakai air pantai biar afdol. Setelah merasa kaki udah lumayan basah, akhirnya kami pun pulang karena kami udah kelaparan banget.

Yak mungkin sekian dulu cerita jalan-jalan ke Pantai Siung (+Pantai Nglambor) nya. Makasih buat Lintang dan Lisa yang rela HPnya dipake buat foto-foto heuheu. Sampai jumpa di postingan berikutnya (semoga punya bahan untuk nulis ya hahaha)!


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



A girl who loves writing as her way to express her thoughts and feelings. She enjoys writing about memories, travel stories, short fiction, and reviews of books or movies. Visit the “Social” or “Message” page to keep in touch with her!

Categories

Blog Competition Book Book Review Cerpen Challange College Life Life Nulis Kilat Self Motivation Travel

Archive

  • ►  2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  Maret 2023 (1)
    • ►  Februari 2023 (1)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (1)
  • ▼  2018 (10)
    • ▼  Juli 2018 (3)
      • Terjebak Senja
      • Jalan-jalan Random di Malioboro
      • Menjemur Diri di Pantai Siung
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (1)

Copyright © 2016 lluvia. Created by OddThemes