Menjemur Diri di Pantai Siung
Mumpung masih suasana lebaran nih, sebelum aku mulai cerita panjang lebar, aku mau ngucapin mohon maaf lahir batin buat teman-temanku, keluargaku, dan khususnya bagi para pembaca blogku yang senantiasa rela membaca tulisan yang cukup berantakan ini hehe. Semoga amal ibadah selama sebulan puasa kemarin diterima Allah SWT ya, kawan-kawan!
Mengingat bulan Juli ini aku masih libur kuliah, aku sama temen-temenku (Inas, Lintang, Risma, Lisa, Devita) berencana untuk main. Bahkan rencana main ini udah dibahas sejak bulan Juni. Sungguh persiapan liburan yang sangat matang hahaha.
Kira-kira aku sama temen-temen mau main kemana hayoo? Ada yang bisa menebak?
Awalnya kami berencana main ke Pantai Wediombo nih, sengaja nyari yang sepi (walaupun sebenernya Pantai Wediombo nggak sepi sepi amat juga sih). Tapi ternyata Pantai Wediombo sangatlah jauh, jadi akhirnya kami mlipir ke Pantai Siung. Tadinya aku sempet mikir Pantai Siung bakalan se-rame apa kalau kami dateng pas weekend. Untungnya Pantai Siung nggak se-rame bayanganku sih. Jadi aku sama temen-temen bisa main dengan leluasa, karena nggak harus berjubel dengan pengunjung yang lain.
Perjalanan menuju Pantai Siung ini (dihitung dari Fakultas Teknik UGM) kurang lebih menghabiskan waktu 1,5 jam. Kami berangkat naik mobil Lintang dan disupirin bapak supir langganan keluarga Lintang (Big thanks to Mama Blogger -Mama Lintang- yang ikhlas meminjamkan mobilnya untuk dipakai krucil-krucil ke pantai dan rela membayar jasa bapak supir. Sekali lagi, makasih ya, Mama Blogger). Selama perjalanan, kami rame banget ngebahas banyak hal sampe ketawa ngakak. Pokoknya ada aja yang diketawain.
Akhirnya setelah lelah tertawa di dalem mobil, kami pun sampai juga di Pantai Siung. Kira-kira ada yang tahu apa yang kita lakukan pertama kali setelah sampai di pantai?
Bukannya langsung mengagumi keindahan pantai, tapi kami justru langsung menyerbu bapak penjual bakso tusuk. Inas sudah kelaparan karena nggak sempat sarapan di rumah. Berhubung aku juga mau mau aja kalau diajak makan, jadi yaudah kami turun mobil langsung jajan bakso tusuk di pinggir pantai. Ternyata eh ternyata, bakso tusuknya enak HAHAHAHA. Bukan cuma itu, selesai makan bakso tusuk pun kami langsung menyerbu bapak penjual telur gulung. Emang dasar wanita-wanita doyan makan (terutama aku sih hehehe).
Nah setelah selesai beli telur gulung, kami langsung jalan menuju tebing yang ada di sisi pantai. Perjalanan menuju puncak tebing cukup membuat ngos-ngosan. Namanya juga tebing, jadi emang butuh effort untuk sampai di puncaknya. Kami berhenti di spot yang menurutku sangat sangat sangat nyaman untuk dipake glundung-glundung. Kenapa aku bisa berpendapat gitu? Karena di spot tersebut ada lahan yang lumayan luas dan diapit dinding-dinding tebing. Dijamin nggak kepanasan kalau mau glundung-glundung di sini karena dinding tebingnya menghalangi sinar matahari (nb: sinar matahari kehalang dinding tebing sekitar jam 11an pagi pas aku ke sana ya, jadi kalau kalian dateng di lain waktu aku juga nggak tau bakalan kepanasan enggak).
Ini penampakan dinding tebing yang aku jelasin tadi. Karena tempatnya emang bagus, jadi kami langsung cul foto. For your information, di balik hasil foto ini terdapat perjuangan yang keras. Kebetulan di sana nggak ada pengunjung lain, jadi kami harus foto mandiri pake fitur timer dari kamera HP. Sayangnya di sana juga nggak ada tempat yang bisa digunakan untuk alas HPnya, jadi dengan susah payah kami harus menggunakan tripod alami dari batu.
Yaudah sih, di tebing ini kami cuma foto-foto aja. Kalau ada spot bagus, langsung berhenti untuk foto-foto dulu. Karena kami berenam, jadi ya kalo ada spot bagus gitu fotonya gantian satu-satu, agak memakan waktu sih. Tapi nggak papa soalnya pemandangannya bikin mata segeeer.
Pas di tebing ini sinar matahari sungguh membakar kulit. Soalnya yaa emang nggak ada tempat berteduh dan kami ke sana mungkin udah sekitar jam 11 atau 12 siang jadi udah kepanasan gitu. Oh iya, jangan harap di sini kalian bisa dapet sinyal ya. Aku pake t*lkomsel aja nggak ada sinyal wkwk. Itulah sebabnya aku males buka HP, jadi nggak ngecek jam juga.
Perjalanan menuju Pantai Siung ini (dihitung dari Fakultas Teknik UGM) kurang lebih menghabiskan waktu 1,5 jam. Kami berangkat naik mobil Lintang dan disupirin bapak supir langganan keluarga Lintang (Big thanks to Mama Blogger -Mama Lintang- yang ikhlas meminjamkan mobilnya untuk dipakai krucil-krucil ke pantai dan rela membayar jasa bapak supir. Sekali lagi, makasih ya, Mama Blogger). Selama perjalanan, kami rame banget ngebahas banyak hal sampe ketawa ngakak. Pokoknya ada aja yang diketawain.
Akhirnya setelah lelah tertawa di dalem mobil, kami pun sampai juga di Pantai Siung. Kira-kira ada yang tahu apa yang kita lakukan pertama kali setelah sampai di pantai?
Bukannya langsung mengagumi keindahan pantai, tapi kami justru langsung menyerbu bapak penjual bakso tusuk. Inas sudah kelaparan karena nggak sempat sarapan di rumah. Berhubung aku juga mau mau aja kalau diajak makan, jadi yaudah kami turun mobil langsung jajan bakso tusuk di pinggir pantai. Ternyata eh ternyata, bakso tusuknya enak HAHAHAHA. Bukan cuma itu, selesai makan bakso tusuk pun kami langsung menyerbu bapak penjual telur gulung. Emang dasar wanita-wanita doyan makan (terutama aku sih hehehe).
Nah setelah selesai beli telur gulung, kami langsung jalan menuju tebing yang ada di sisi pantai. Perjalanan menuju puncak tebing cukup membuat ngos-ngosan. Namanya juga tebing, jadi emang butuh effort untuk sampai di puncaknya. Kami berhenti di spot yang menurutku sangat sangat sangat nyaman untuk dipake glundung-glundung. Kenapa aku bisa berpendapat gitu? Karena di spot tersebut ada lahan yang lumayan luas dan diapit dinding-dinding tebing. Dijamin nggak kepanasan kalau mau glundung-glundung di sini karena dinding tebingnya menghalangi sinar matahari (nb: sinar matahari kehalang dinding tebing sekitar jam 11an pagi pas aku ke sana ya, jadi kalau kalian dateng di lain waktu aku juga nggak tau bakalan kepanasan enggak).
Ini penampakan dinding tebing yang aku jelasin tadi. Karena tempatnya emang bagus, jadi kami langsung cul foto. For your information, di balik hasil foto ini terdapat perjuangan yang keras. Kebetulan di sana nggak ada pengunjung lain, jadi kami harus foto mandiri pake fitur timer dari kamera HP. Sayangnya di sana juga nggak ada tempat yang bisa digunakan untuk alas HPnya, jadi dengan susah payah kami harus menggunakan tripod alami dari batu.
Ya, jadi beginilah perjuanganku supaya tripod alami dari batu bisa digunakan semaksimal mungkin. Alhamdulillah hasil fotonya nggak jelek-jelek amat. Iya kan?! Bilang aja iya biar aku seneng!
Selesai foto-foto dengan penuh perjuangan ini, kami lanjut menyusuri tebing. Jadi di deket lokasi foto kami ini, ada tebing yang menghubungkan Pantai Siung dan Pantai Nglambor. Nah di tebing tersebut, udah dipasangin jembatan dari bambu gitu supaya lebih mudah dilewatin. Tapi jembatannya nampak nggak kokoh... Agak serem rasanya waktu ngelewatin jembatannya. Ohiya, for your information lagi nih, ternyata untuk masuk ke daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Ngalmbor ini harus bayar Rp15.000. Kami sempat tertipu :( Jadi sebelum memasuki daerah tebing yang menghubungkan ke Pantai Nglambor ini, emang ada tulisan kalau harus bayar Rp15.000 tapi nggak ada petugas yang jaga. Jadi kami santai aja masuk, dikiranya nggak bayar. Walaupun sebenernya aku udah ada feeling nanti di dalem bakalan tiba-tiba ditagih. Dan.........TETOT! Ternyata feeling-ku benar! Lagi di tengah jalan, kami didatengin mas-mas penjaga, dimintain Rp15.000 buat biaya masuk.
Berhubung udah terlanjur bayar Rp15.000, makanya kami lanjut jalan aja deh. Kan sia-sia kalau udah bayar tapi nggak dipuas-puasin HEHEHE.
Yaudah sih, di tebing ini kami cuma foto-foto aja. Kalau ada spot bagus, langsung berhenti untuk foto-foto dulu. Karena kami berenam, jadi ya kalo ada spot bagus gitu fotonya gantian satu-satu, agak memakan waktu sih. Tapi nggak papa soalnya pemandangannya bikin mata segeeer.
Pas di tebing ini sinar matahari sungguh membakar kulit. Soalnya yaa emang nggak ada tempat berteduh dan kami ke sana mungkin udah sekitar jam 11 atau 12 siang jadi udah kepanasan gitu. Oh iya, jangan harap di sini kalian bisa dapet sinyal ya. Aku pake t*lkomsel aja nggak ada sinyal wkwk. Itulah sebabnya aku males buka HP, jadi nggak ngecek jam juga.
Kami jalan terusss pantang berhenti, hingga akhirnya kami sampai di Pantai Nglambor. Di pantai ini kami cuma duduk-duduk berteduh karena udah mulai kehabisan tenaga. Risma juga lagi kena apes, karena sandalnya jebol HAHAHAHA kayaknya sih gara-gara kesandung waktu di tebing.
Selama berteduh di Pantai Nglambor ini, kami belajar ice breaking ala cofass PPSMB Palapa. Kira-kira siapa yang ngajarin? Siapa lagi kalau bukan Devita, si cofass PPSMB. Jadi sambil mengisi waktu, kami tepuk-tepuk tangan gitu buat belajar ice breaking. Dan ternyata lumayan menyenangkan, soalnya ini pertama kalinya buat aku. Lumayan kan Devita bisa belajar menangani adik-adik mahasiswa baru yang kebosanan sambil ngehibur kami yang sedang kelelahan.
Karena jam udah menunjukkan pukul 1 siang, jadi kami pun menyudahi ice breaking ala PPSMB Palapa di Pantai Ngalmbor dan balik ke Pantai Siung.
Nggak afdol namanya kalau ke pantai tapi nggak mainan air, benar begitu teman-teman? Jadi karena dari tadi kami belum mainan air, akhirnya pas udah balik ke Pantai Siung kami mainan air bentar. Cuma membasuh kaki pakai air pantai biar afdol. Setelah merasa kaki udah lumayan basah, akhirnya kami pun pulang karena kami udah kelaparan banget.
Yak mungkin sekian dulu cerita jalan-jalan ke Pantai Siung (+Pantai Nglambor) nya. Makasih buat Lintang dan Lisa yang rela HPnya dipake buat foto-foto heuheu. Sampai jumpa di postingan berikutnya (semoga punya bahan untuk nulis ya hahaha)!
Tags:
Travel










4 comments
Kapan trip selanjutnya nich
BalasHapusKuy pancal
Hapusyuhuuuu
HapusCulkan ya semester depan hahaha
Hapus