Ketika Teori Efisiensi Kalah Sama Isi Dompet

Dulu aku selalu mikir kalau beli barang yang lebih gede, otomatis biaya pengeluarannya lebih murah. Contohnya nih, misal kalian beli sabun 250 ml. Harga per ml biasanya akan lebih murah daripada sabun yang 100 ml, dengan merk yang sama.

Selain itu, ongkos kirim atau ongkos perjalanan ke tokonya otomatis jadi lebih murah juga. Karena dengan membeli sabun 250 ml, kalian gak perlu dua kali datang ke toko atau dua kali membayar ongkos kirim.

Sebagai lulusan Teknik Industri, otakku ini ada aja mikir cara supaya semuanya lebih efisien. Mendapatkan hasil yang optimal dengan resource yang minimal. Dan aku yakin beberapa orang yang bidangnya sama kayak aku, juga akan berpikir demikian.

Sampai akhirnya aku membaca sebuah cuitan di sosial media X. Anggap aja kita lagi bahas pembelian sabun 100 ml dan 250 ml tadi ya. Di cuitan tersebut, ada yang bilang kalau gak semua orang mampu membeli sabun 250 ml saat itu juga. Dalam artian, saat ini mereka hanya punya uang untuk membeli yang 100 ml. Mungkin kalau dihitung-hitung emang jatuhnya lebih mahal. Tapi masalahnya resource-nya gak ada. Uang yang saat itu tersedia untuk beli sabun tuh gak sebanyak itu. Jadi mereka cuma mampu beli yang 100 ml, dan akan membeli lagi nanti kalo sabunnya udah habis dan udah punya uang lagi.

Pas baca cuitan itu, jujur aja mataku langsung terbuka lebar. Berarti selama ini aku cukup beruntung karena aku gak pernah punya constraint kekurangan resource (dalam hal ini adalah uang) untuk beli sabun langsung yang 250 ml. Ternyata masih ada lho orang-orang di luar sana yang mau beli sabun 250 ml aja tuh gak sanggup. Jadi belinya dikit-dikit sesuai ketersediaan uang saat itu.

Kebetulan, setahun yang lalu ibuku divonis punya tumor dan miom di organ tubuhnya. Ibuku tuh penakuuuuut banget kalo udah berurusan sama dokter. Jadi akhirnya ibuku memutuskan untuk berobat ke alternatif gitu. Ini cerita versi singkatnya yah, walaupun sejujurnya ada pergolakan batin juga selama proses memutuskan hal ini.

Berapa biaya alternatifnya? Seminggu itu ibuku harus membayar 225.000 untuk menebus obat herbal. Jadi bisa dibayangkan ya berapa banyak pengeluaran untuk pengobatan alternatif ini. Dan FYI, ibuku udah menjalani pengobatan itu hampir setahun.

Atasanku juga tahu kalau ibuku sakit dan sedang berjuang untuk sembuh. Beberapa kali beliau menanyakan progress pengobatan ibu. Beliau juga tahu ibuku berobat ke alternatif. Dan kemarin beliau nanya-nanya tentang pengobatan itu.

Aku lupa sih kami bahas apa waktu itu, tapi aku sempet bilang ke beliau kalau ibuku harus membayar sekian (nominal yang kusebut di atas tadi) setiap minggu. Sebagai gambaran, atasanku juga punya background pendidikan yang sama denganku hehe. Terus kalian tau gak respon beliau?

"Kenapa gak ditebus aja obatnya langsung banyak, misal sekalian sebulan, biar gak bolak balik? Kan jatuhnya lebih murah, karena ongkos perjalanannya gak dihitung berkali-kali."

Aku cuma tersenyum.

Ternyata hal ini datang juga padaku. Mungkin aku masih mampu beli sabun langsung yang 250 ml. Tapi khusus pengobatan alternatif ini ternyata aku cuma bisa bayar dikit-dikit dulu hehe. It’s not a big a deal sih sebenernya. As long as aku dan keluarga masih bisa membayar pengobatan tersebut, mau bagaimana pun metodenya, itu gak jadi masalah. Insya Allah, Allah mampukan kami sekeluarga. Aamiin.

Tags:

Share:

0 comments